Sabtu, 31 Agustus 2013

Puasa Sunnah 6 Hari Syawal

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 21.53
Reaksi: 
0 komentar
Puasa Sunnah 6 Hari Syawal
Puasa Syawal adalah merupakan bagian dari beberapa puasa sunnah yang ada dalam dalam ajaran Islam dan juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Puasa 6 Hari Bulan Syawal adalah merupakan bagian dari meneruskan puasa Ramadhan yang telah dilaksanakan selama 1 bulan penuh dan senantiasa untuk melanjutkan kebaikan dan amalan-amalan sunnah selepas bulan penuh kemuliaan Ramadhan Mubarak ini.

Dalil pelaksaan ibadah berpuasa sunnah dalam bulan Syawal ini adalah merujuk pada sebuah hadist yang artinya adalah :"Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).
Hikmah keutamaan puasa sunnah Syawal adalah salah satunya bahwasannya puasa selama 6 hari di bulan syawal merupakan juga menyempurnakan rangkaian ibadah puasa Ramadhan. maka barangsiapa yang berpuasa Ramadhan sebulan penuh, dan selanjutnya menunaikan berpuasa sunnah pada bulan Syawwal, maka dia akan mendapatkan pahala puasa selama setahun penuh.

Keutamaan dan
 manfaat berpuasa sunnah di bulan syawal ini tentunya adalah bagi orang-orang yang telah melaksanakan puasa sebulan penuh. Bila ada halangan karena sakit atau pun bepergian, maka alangkah baiknya sebelum memulai berpuasa, sudah membayar hutang puasa Ramadhan sebelumnya ataupun meng-qadhanya terlebih dahulu.

Beberapa keutamaan berpuasa 6 hari syawal yaitu :
  1. Mendapatkan syafaat Rasulullah SAW karena telah menghidupkan sunnah-sunnah beliau termasuk dalam rangka shaum syawal ini selama 6 hari.
  2. Merupakan salah satu jalan dan cara untuk selalu memupuk kecintaan dan keimanan dengan senantiasa beribadah baik itu wajib maupun sunnah.
  3. Menutup beberapa kekurangan kita ketika kita sedang menjalankan puasa Ramadhan yang lalu.
  4. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya.
  5. Ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan.

Cara mengerjakan puasa syawal ini 6 hari tersebut bukanlah hari-hari tertentu/terbatas dari bulan Syawwal. Namun boleh bagi seorang mukmin untuk memilihnya. Jika mau dia boleh berpuasa pada awal bulan, jika mau boleh berpuasa pada pertengahan bulan, dan jika mau boleh berpuasa pada akhir bulan, jika mau boleh mengerjakannhya secara terpisah-pisah.

Muhasabah Dalam Islam

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 21.51
Reaksi: 
0 komentar
Muhasabah Dalam Islam
Makna muhasabah dalam agama kita mengandung arti yang begitu mendalam bila kita mengetahui hakikat muhasabah itu sendiri. Muhasabah identik dengan intropeksi diri atas apa yang telah kita lakukan dan apa yang harus kita perbaiki demi masa depan yang lebih baik. Terutama dalam kehidupan dunia dan juga kehidupan akherat nan kekal abadi. Mengerti, memahami akan arti definisi muhasabah dalam Islam perlu untuk setiap mukmin dalam rangka memperbaiki dirinya ke dalam hal-hal yang baik dan positif.

Dalil yang berkaitan dengan makna muhasabah ini juga banyak. Diantaranya yaitu hadist Rasulullah SAW yang artinya adalah :
"Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT". (HR. Imam Turmudzi).
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan muhasabah juga telah Allah Firman kan dalam Al-Qur'an yaitu Q.S.Al-Hasyr (59):18 yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Pengertian muhasabah adalah evaluasi diri sendiri. Sehingga penjabaran akan makna arti muhasabah adalah bahwasannya muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya adalah menghisab atau pun menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi, atau pun introspeksi diri.
Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan dari masa-masa yang telah lalu. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu akan dirinya sendiri. Dan manusia beruntung akan selalu mempersiapkan dirinya untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir di akhirat yang pasti adanya.

Dengan melakasanakan uhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan setiap waktu dari detik, menit, jam dan harinya serta keseluruhan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya demi meraih keridhoan Allah Ta'ala. Dengan melakukan penuh akan perhitungan baik itu dalam hal amal ibadah mahdhah maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat dan kehidupannya sebagai seorang hamba kepada Allah Sang Khalik. Allah SWT memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya dengan meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Ada beberapa
 manfaat dan keutamaan muhasabah bagi setiap orang yang beriman yaitu :
  1. Dengan bermuhasabah diri, maka diri setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri. Baik itu dalam hal amalan ibadah, kegiatan yang memberikan manfaat untuk banyak manusia. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.
  2. Dalam hal ibadah, kita akan semakin tahu akan hak kewajiban kita sebagai seorang hambaNya dan terus memperbaiki diri dan mengetahui hakekat ibadah bahwasannya manfaat hikmah ibadah adalah demi kepentingan diri kita sendiri. Bukan demi kepentingan Allah Ta'ala. Karena kita lah manusia yang lemah dan penuh dosa yang memerlukan akan pengampunan dosa-dosa kita yang banyak.
  3. Mengetahui akan segala sesuatu baik itu kecil maupun besar atas apa yang kita lakukan di dunia ini, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akherat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap manusia.
  4. Membenci hawa nafsu dan mewaspadainya. Dan senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala hal yang berbau kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat kelak.
Intropeksi diri dalam agama adalah bermakna evaluasi diri sebagai salah satu pesan Rasulullah SAW, sangatlah penting dilakukan oleh setiap diri orang Muslim. Dengan sering melakukan muhasabah yang sesungguhnya, ia akan mengetahui berbagai kelemahan, kekurangan dan kesalahan yang ia lakukan. 

Dengan begitu kita bisa mengerti akan makna hakekat sesungguhnya dalam bermuhasabah diri. Setiap diri akan senantiasa memperbaiki kualitas hidupnya. Kualitas hidup kita dalam bimbungan Islam yaitu Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Rasulullah SAW akan semakin lebih baik dan akhlak kita makin terpuji, dan akan membuat kita menjadi semakin ikhlas, semakin rendah hati dan semakin taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Itulahmakna muhasabah.

Manfaat Hikmah Puasa Ramadhan

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 21.49
Reaksi: 
0 komentar
Manfaat Hikmah Puasa Ramadhan
Manfaat puasa ramadhan bagi umat Islam tentunya banyak. Baik itu manfaat puasa bagi kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa kita. Karena tentunya ketika syariat Islam ada, banyak hikmah di balik itu semuanya. Termasuk juga mengenai hikmah keutamaan puasa Ramadhan bagi kita umat Islam yang wajib untuk dilaksanakan bila tidak ada halangan rintangan ketika menjalaninya. Karena memang hukum puasa Ramadhan adalah wajib. Apalagi kita sudah kian mendekati Ramadhan 1434 H yang tinggal menunggu hitungan hari lagi.

Ramadhan
 adalah merupakan bulan yang banyak mengandung hikmah serta keutamaannya. Sesungguhnya sudah seharusnya orang Islam dan beriman akan gembira ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan ini. Bukan saja telah diarahkan menunaikan ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda, di dalam bulan Ramadhan Allah Ta'ala juga telah menurunkan kitab suci al-Quranul-karim, yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia di alam semesta ini dan juga untuk membedakan antara yang benar dengan yang salah.

Dan bulan suci ramadhan ini juga merupakan salah satu moment waktu yang tepat untuk mengenalkan puasa ini bagi anak-anak kita juga. Dan juga waktu yang tepat untuk
 melatih anak berpuasa juga. Karena memang penting sekali bagi para orang tua untuk mengenalkan akan pentinganya berpuasa ramadhan ini bagi anak-anak dan juga begi keseluruhan Umat Muslim di penjuru dunia.

Kewajiban menjalankan ibadah puasa Ramadhan
 ini telah Allah Ta'ala perintahkan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya :"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." Jadi tujuan puasa Ramadhan adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa dengan sesungguhnya. Yaitu menjalankan apa yang diperintahNya serta menjauhi segala apa yang dilarangNya.
Kita mengulang kembali dengan pengertian puasa yang pernah diulas dalam manfaat puasa bagi kesehatan yaitu yang dimaksud dengan berpuasa menurut syariat Islam ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti halnya makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak mulai terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari, disertai dengan niat iklhas ibadah kepada Allah, karena mengharapkan ridho-Nya serta menyiapkan diri dalam rangka meningkatkan ketakwaan.

Berikut beberapa
 manfaat puasa Ramadhan yaitu :
  1. Dengan berpuasa Ramadhan selama 1 bulan penuh maka hal ini secara tidak langsung manfaat bagi kesehatan adalah mengistirahatkan organ pencernaan kita serta juga perut dari kelelahan bekerja yang terus menerus dalam 11 bulan, dan juga membantu mengeluarkan sisa makanan dari dalam tubuh, memperkuat badan.
  2. Membersihkan tubuh dari racun serta kotoran (detoksifikasi). Puasa merupakan terapi detoksifikasi yang paling tua. Dengan berpuasa pada bulan suci Ramadhan, maka ini berarti kita juga akan membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita yang mana hal ini akan bermanfaat dalam proses metabolisme yang menghasilkan enzim antioksidan yang berfungsi salah satunya untuk membersihkan zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh.
  3. Bagi kesehatan psikologis kita faedah puasa akan kita dapatkan yaitu kondisi mental emosi kita akan lebih terjaga dan terkontrol dengan lebih baik lagi. Keadaan ini akan membantu dalam penurunan tingkat adrenalin dalam tubuh. Yang mana adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.
  4. Puasa bagi kesehatan akan memberikan manfaatnya antara lain adalah bisa membantu dalam proses menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan juga mengendalikan tekanan darah. Itulah mengapa dalam satu sisi, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Tentunya hal ini juga harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tim medis yang berkompeten bila anda adalah mempunyai suatu jenis penyakit tertentu.
Selain manfaat puasa ramadhan bagi kesehatan yang akan kita peroleh bila kita benar-benar menjalankan rukun dan syarat puasa yang benar, maka kita juga akan banyak mendapatkan hikmah bulan Ramadhan itu sendiri. 

Dan berikut adalah beberapa
 hikmah bulan Ramadhan yaitu :
  1. Salah satu dari hikmah keutamaan puasa ramadhan ini bagi Umat Islam adalah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hal ini berdasarkan sebuah dalil hadist yang berbunyi :"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mencari ridha Allah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."(Hadits Mutafaqun ‘Alaih).
  2. Meningkatkan rasa syukur kita terhadap banyaknya nikmat yang telah Allah Ta'ala anugerahkan kepada kita semuanya. Hal ini bisa kita lakukan dengan melakukan berbagai amalan kebaikan dalam bulan ramadhan seperti contohnya bersedekah kepada orang-orang fakir pada bulan Ramadhan mulia ini, Banyak memberi dan jadilah seseorang yang memberikan pemberian orang yang tidak takut miskin. Berderma dengan harta dan kebaikan kepada saudara-saudaramu yang membutuhkan, dan menjadi orang yang mensyukuri nikmat Allah.
  3. Ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kurang berkecukupan. Dalam puasa kita tentu merasa lapar dan dahaga, mengingatkan kita betapa menyedihkannya nasib orang yang tidak berpunya. Mungkin kita hanya beberapa jam saja, lalu kita bisa berbuka puasa, sedangkan mereka yang miskin tak berpunya bisa saja puasa sepanjang siang dan malam. Tentu ini membuat kita menjadi lebih bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang diberikanNya.
  4. Melatih diri kita pribadi khususnya untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Jika pada 11 bulan yang lalu kita sering melalaikan Allah untuk hal-hal yang bersifat duniawi, ini saatnya kita menata diri dalam beribadah kepadaNya, supaya tercapai keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat. Ibadah dan pekerjaan dunia haruslah seimbang, sehingga kita menjadi manusia yang seutuhnya yang banyak memberikan kebaikan kepada banyak manusia.
  5. Puasa akan membiasakan umat Islam untuk hidup disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, juga melahirkan perasaan kasih sayang dalam diri orang-orang beriman dan mendorong mereka berbuat kebajikan.

Marhaban Ya Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan barakah. Pada bulan suci ini pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Pada bulan kemuliaan Ramadhan ini setan-setan dibelenggu. 

Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal di dalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain yaitu
 malam Lailatul Qadr. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat maksiat dan dosa agar menahan diri.

Malam Lailatur Qadar

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 21.47
Reaksi: 
0 komentar
Malam Lailatul Qadar
Malam seribu bulan atau lebih dikenal dengan Lailatul Qadar adalah sebuah malam yang penuh dengan kemulian. Malam yang terdapat dalam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini banyak orang yang mencari dan berusaha mendapatkan kebaikan dan kemuliaan malam Lailatul Qadar. Mengenai malam seribu bulan ini atau pun Lailatul Qadar ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Qadr: 1-5 yang artinya :"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."

Pengertian lailatul qadar
 ini terdapat dua hal yaitu malam kemuliaan dan juga waktu ditetapkannya takdir tahunan. Mengenai definisi malam lailatul qadar ini terdapat dalam QS. Ad Dukhon : ayat ke 4 yang artinya :"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."

Malam seribu bulan maksud dan pengertiannya adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang berdoa pada malam itu maka InsyaAllah Allah akan mengabulkannya doa-doa hamba-hambaNya di malam penuh dengan kemuliaan tersebut.
 
Ada beberapa hal yang menjelaskan akan waktunya malam lailatul Qadar ini dan juga beberapa hal yang menandakan datangnya malam penuh dengan kemuliaan tersebut. Dan diantara tanda malam Lailatul Qadar disebutkan dan dijelaskan melalui beberapa hadist Nabi Rasulullah Muhammad SAW yaitu :
  1. Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), "Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah (setengah bejana)." (HR Muslim 1170).
  2. Dari Ubay ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda (yang artinya) : "Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR Muslim 762).
  3. Dan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), "(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
  4. dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah SAW: "Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)" (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
Sehingga kita bisa mengerti akan penjelasan dan dalil mengenai tanda ciri datangnya malam lailatul qadar tersebut di atas dengan meringkasnya bahwasannya beberapa ciri malam lailatul qadar adalah sebagai berikut :
  1. Udara di pagi hari yang tenang.
  2. Bulan terlihat seperti separuh bulatan.
  3. Udara dan angin terasa tenang.
  4. Datang pada Hari Ganjil, di 10 hari terakhir Bulan Ramadhan.

Macam & Bahaya Ria

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 21.45
Reaksi: 
0 komentar
Macam Dan Bahaya Riya
Bahaya riya dalam agama Islam dan amal perbuatan kita tidaklah boleh dianggap ringan. Karena di dalam riya segala amal ibadah akan rusak. Karena amalannya akan menjadi sia-sia. Hal ini dipertegas dalam sebuah Al-Qur'an yaitu yang artinya :"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia". (QS. Al-Baqarah: 264). Karena itu pentingnya kita juga mengenal serta mengetahui akan macam jenis riya' yang harus kita hilangkan dalam diri kita masing-masing.

Pengertian riya
 yaitu adalah mengamalkan ibadah dengan niat untuk mendapatkan bagian dunia, baik berupa pujian, harta, kedudukan, wanita, dan semacamnya, dan dia termasuk syirik asghar atau syirik khafi (bagi yang menyamakan keduanya). Inilah yang dimaksud dengan definisi riya itu. Dan hal ini juga tidak beda jauh dengan apa yang dinamakan dengan sum'ah yang kesemuanya bertujuan untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari banyak orang serta manusia.
Ada beberapa yang menjadi penyebab riya yaitu :
  1. Merasa senang dengan pujian orang banyak.
  2. Serakah dan juga rakus terhadap apa yang terdapat (dimiliki) orang lain.
  3. Lari dari berbagai macam celaan.
Dan yang termasuk dalam bahaya riya diantaranya yaitu :
  1. Merupakan sifat orang-orang munafik. (QS. an-Nisa’: 142).
  2. Termasuk salah satu dosa besar.
  3. Mendatangkan dan menyebabkan kemurkaan Allah Ta'ala.
  4. Dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, bahkan neraka pertama kali akan dipanaskan bagi para pelaku riya’. (HR. Muslim)
  5. Dapat menghapuskan amalan yang dikerjakan seseorang.
  6. Pelakunya akan dipermalukan di hadapan makhluk seluruhnya pada hari kiamat.
  7. Merupakan dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Ahmad)
  8. Mengubah amal saleh menjadi amal buruk, seharusnya pelakunya mendapatkan pahala dari amalannya, namun sebaliknya ia malah mendapat dosa karena riya’-nya.
Pelaku riya` ini, tatkala di dunia dia ingin mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang karena ibadahnya, maka pada hari kiamat Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk dengan menyuruhnya untuk mencari pahala amalan kepada makhluk yang dia harapkan pujiannya di dunia. Tidak cukup sampai di situ, setelah Allah Ta’ala mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk, Allah Ta’ala langsung mencampakkan para pelaku riya` ini ke dalam jahannam. Semoga kita semuanya dijauhkan dari sifat riya dan munafik aamiin.

Berikut adalah beberapa macam-macam riya yang diulas oleh Abu Hamid al-Ghozzali rahimahullah yaitu :
Riya Anggota Badan.
Hal ini bisa terlihat dan nampak pada perilaku seseorang yang menampakkan kekurusan badan dan muka pucat agar dikira begitu bersemangat beribadah, begitu besar kekhawatirannya terhadap agama dan sangat takut kepada akhirat.

Riya Dengan Pakaian.
Hal ini dilakukan seseorang dengan cara seperti halnya dengan membiarkan rambut acak-acakan, membuat-buat bekas sujud di wajah, mengenakan pakaian tebal, tidak membersihkan baju dan membiarkannya rusak atau berlubang. Semua itu ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya mengikuti sunnah.

Riya' Dengan Ucapan.
Hal ini terjadi pada diri orang-orang yang suka memberi nasihat, peringatan, menyampaikan hikmah, riwayat dan atsar, ketika disampaikan dengan niat untuk menampakkan derasnya ilmu yang ia miliki. Bisa juga dengan menyibukkan diri dengan berzikir, amar makruf dan nahi munkar di hadapan manusia (dengan niat agar dilihat orang lain).

Riya Dengan Amalan.
Seperti riya’-nya orang yang mengerjakan salat dengan memanjangkan berdiri, ruku’, sujud dan lain-lain (dengan niatan untuk dipuji oleh orang lain).

Riya’ Dengan Teman dan Tamu.
Seperti meminta kepada seorang ulama untuk berkunjung ke rumahnya agar dikatakan bahwa Syaikh fulan telah mengunjunginya.

Berikut bebepapa
 tips cara menghilangkan sifat riya yaitu :

  • Mengetahui akan kebesaran dan keagungan Allah Ta'ala.
  • Mengetahui jenis-jenis amalan yang diperuntukkan untuk dunia dan mengetahui jenis-jenis riya’ serta faktor-faktor pendorong perbuatan riya’.
  • Takut dari beramal untuk kepentingan dunia.
  • Mengenal serta mengetahui apa yang telah Allah persiapkan untuk akhir kehidupan yang sesungguhnya.

Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 21.42
Reaksi: 
0 komentar

Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua
Kewajiban anak kepada orang tua adalah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan anak kepada ayah ibunya. Karena Islam dan Al-Qur'an sendiri telah mengajarkan untuk untuk berbuat baik kepada orang tua kita sendiri. Karena itulah sebagai seorang anak kita mempunyai kewajiban berbakti pada orang tua kita sendiri yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan kita semuanya sampai dengan sekarang ini.

Tuntunan Islam dalam hal menghormati dan berbuat baik serta berbakti kepada orang tua telah jelas adanya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil mengenai keharusan seorang anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Salah satunya adalah seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an surat Lukman: 14 yang artinya :"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."

Bila kita bersyukur kepada orang tua berarti kita juga bersyukur kepada Allah pada hakekatnya. Dan juga sedemikian pula sebaliknya. Karena memang banayak cara dalam hal
 cara bersyukur kepada Allah. Karena memang salah satu letak keridhoan Allah Ta'ala terletak juga pada keridhoan dan kerelaan orang tua terhadap anak-anaknya. Perintah berbuat baik atau Birrul Walida’in dalam Al-Qur’an telah banyak juga terdapat dalam kandungan Al-Qur'an sebanyak 13 kali. 
Birrul Walidain berasal dari dua kata, birru dan al-walidain. Imam Nawawi ketika mensyarah Shahih Muslim memberi penjelasan, bahwa kata-kata Birru adalah mencakup makna bersikap baik, ramah dan taat yang secara umum tercakup dalam khusnul khuluq (budi pekerti yang agung). Sedangkan, walidain adalah mencakup kedua orangtua, termasuk kakek dan nenek. Jadi, pengertian birrul walidain adalah sikap dan perbuatan baik yang ditujukan kepada kedua orangtua, dengan memberikan penghormatan, pemuliaan, ketaatan dan senantiasa bersikap baik termasuk memberikan pemeliharaan dan penjagaan dimasa tua keduanya.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan beberapa cara memenuhi
 kewajiban anak kepada orang tua yaitu :
Berbuat Baik Kepada Orang Tua.
Hal yang kita lakukan sebagai anak dalam hal ini adalah dengan memberikan penjagaan dan pemeliharaan di hari tua kedua orang tuanya serta juga memberikan perkataan kepada orang tua dengan perkataan yang baik dan mulia.

Mendoakan Orang Tua.
Tentang kewajiban seorang anak kepada bapak ibunya salah satunya adalah dengan mendoakan kebaikan dunia akherat baik keduanya. hal ini seperti tercantum dalam beberapa ayat Qur'an yaitu dengan doa-doa seperti :"Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil." (Qs. Al-Israa: 24). Dan juga
 doa Nabi Ibrahim yang terdapat Al-Qur'an surat Ibrahim : 41 yang artinya :" Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat )."

Memberikan Sebagian Rejekinya Pada Orang Tua.
Pada hakekatnya memberikan sesuatu kepada orang tua termasuk uang di dalamnya adalah merupakan bagian dari infak yang bisa kita lakukan. Karena apapun yang kita miliki sekarang ini adalah berkat doa-doa orang tua kita yang tidak putus-putus kepada anaknya dan juga berkat perjuangan beliau dalam menyekolahkan dan mendidik kita semuanya. Hal ini juga tercantum dalam Al-Qur'an yang artinya :"… Setiap harta yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan setiap kebajikan yang kamu lakukan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (Qs. Al-Baqarah: 215).

Ada juga beberapa hikmah dan keutamaan dalam kita menghormati serta berbakti kepada orang tua kita.
 
Berikut adalah beberapa
 hikmah keutamaan berbakti berbuat baik kepada orang tua yaitu :
  1. Berbakti Pada Orang Tua Termasuk Jihad. Hal ini berdasarkan hadist Nabi Rasulllah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim bahwasannya Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. Beliau bertanya, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Lelaki itu menjawab, 'Masih.' Beliau bersabda : "Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya."
  2. Melakukan Ketaatan Kepada Orang Tua Termasuk Penyebab Masuk Surga. hal ini adalah berdasarkan atas dalil sebuah hadist dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda : "Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan." Salah seorang Sahabat bertanya, "Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab : "Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga." (HR. Muslim).
  3. Berbuat Baik Dan Berbakti Bisa Menolak Musibah Bencana. Hal ini bisa kita dapatkan dari sebuah hikmah cerita mengenai tiga orang yang terkurung dalam sebuah gua. Dan mereka berdoa dengan amalan kebaikannya masing-masing dan salah satunya adalah dengan melakukan kebaikan kepada ayah ibunya. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (HR. Bukhari Muslim).
  4. Merperluas Rejeki. Seperti yang pernah diulas dalam sebuah artikel. Baca juga Hikmah Keutamaan Silaturahmi bahwasannya silaturahmi kita terhadap orang tua kita janganlah sampai terputus. Walaupun kita jauh dari kedua orang tua, tali silaturahmi harus tetap dijaga. Apalagi dengan era masa sekarang ini dengan banyaknya alat teknologi yang bisa dilakukan untuk tetap menjalin komunikasi dan silaturahmi. Berbakti kepada kedua orang tua adalah merupakan salah satu dari bentuk aplikasi silaturahim yang paling afdhal yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim." (HR. Bukhari Muslim).
  5. Durhaka Kepada Orang Tua, Termasuk Dosa Besar Yang Terbesar. Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda : "Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?" Para Sahabat menjawab, "Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam." Beliau bersabda : "Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua." Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, "..ucapan dusta, persaksian palsu.." Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (HR. Bukhari Muslim).

 

just a blog. not real. Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review