Jumat, 29 November 2013

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 05.42
Reaksi: 
0 komentar

Lingkungan Sosial Budaya


Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau “homo sapiens”, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing dalam menunjang sistem kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya.
Pemahaman tentang hidup dan kehidupan, itu tidak mudah. Makin banyak hal yang kita lihat tentang gejala adanya hidup dan kehidupan, makin nampak bahwa hidup itu sesuatu yang rumit. Pada individu dengan organisasi yang kompleks, hidup ditandai dengan eksistensi vital, yaitu: dimulai dengan proses metabolisme, kemudian pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, dan adaptasi internal, sampai berakhirnya segenap proses itu
bagi suatu “individu”. Tetapi bagi “individu” lain seperti sel-sel, jaringan, organ-organ, dan sistem organisme yang termasuk dalam alam mikroskopis, batasan hidup adalah tidak jelas atau samar-samar.
Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yang didukung tidak saja oleh makhluk hidup (biotik), tetapi juga benda mati (abiotik), dan berlangsung dalam dinamikanya seluruh komponen kehidupan itu. Ada perpaduan erat antara yang hidup
dengan yang mati dalam kehidupan. Mati adalah bagian dari daur kehidupan yang memungkinkan terciptanya kehidupan itu secara berlanjut.
Lingkungan hidup adalah suatu konsep holistik yang berwujud di bumi ini dalam bentuk, susunan, dan fungsi interaktif antara semua pengada baik yang insani (biotik) maupun yang ragawi (abiotik). Keduanya saling mempengaruhi dan menentukan, baik bentuk dan perwujudan bumi di mana berlangsungnya kehidupan yaitu biosfir maupun bentuk dan perwujudan dari kehidupan itu sendiri, seperti yang disebutkan dalam hipotesa Gaia. Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, oleh karena itu yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia.
Belum ada definisi tentang lingkungan sosial budaya yang disepakati oleh para ahli sosial, karena perbedaan wawasan masing-masing dalam memandang konsep lingkungan sosial
budaya. Untuk itu digunakan definisi kerja lingkungan sosial budaya, yaitu lingkungan antar manusia yang meliputi: pola-pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang berlaku dalam suatu lingkungan ruang, yang ruang lingkupnya ditentukan oleh
keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut (termasuk perilaku manusia didalamnya), dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya.
Oleh karena itu, lingkungan sosial budaya terdiri dari pola interaksi antara budaya, teknologi dan organisasi sosial, termasuk di dalamnya jumlah penduduk dan perilakunya yang terdapat dalam lingkungan spasial tertentu.
Lingkungan sosial budaya terbentuk mengikuti keberadaan manusia di muka bumi. Ini berarti bahwa lingkungan sosial budaya sudah ada sejak makhluk manusia atau homo sapiens ini ada atau diciptakan. Lingkungan sosial budaya mengalami perubahan sejalan
dengan peningkatan kemampuan adaptasi kultural manusia terhadap lingkungannya.

PENYAKIT SOSIAL

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 05.29
Reaksi: 
0 komentar

  PENYAKIT SOSIAL

orang-ramai
Dalam proses sosialisasi di masyarakat, disadari ataupun tidak disadari seseorang pernah melakukan tindakan penyimpangan sosial, baik dalam skala besar ataupun kecil. Perilaku menyimpang apabila dilakukan secara intens dan dalam skala yang besar bisa berubah menjadi penyakit sosial.
Penyakit sosial yang merupakan kebiasaan berperilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, baik pada masyarakat tradisional, desa, kota, maupun pada masyarakat modern.
PENGERTIAN PENYAKIT SOSIAL
Berbagai perilaku individu terkait erat satu sama lainnya dalam setiap kelompok atau masyarakatnya. Masyarakat adalah suatu kelompok sosial yang terdiri atas kumpulan beberapa individu yang hidup bersama dan menjalin interaksi sosial dalam suatu daerah dalam jangka waktu yang relatif lama.
Masyarakat dapat diibaratkan sebagai tubuh, di mana keadaan masing-masing organ berpengaruh terhadap kondisi kesehatan tubuh. Demikian halnya masyarakat, di mana perilaku individu yang merupakan bagian dari masyarakat menentukan bagaimana keadaan masyarakat secara kesuluruhan. Misalnya kebiasaan warga masyarakat menjaga kebersihan lingkungannya akan membentuk situasi lingkungan masyarakat yang bersih, sehat, rapi, dan indah. Sebaliknya, jika masing-masing warga masyarakat tidak peduli dengan keadaan lingkungannya, maka situasi lingkungan masyarakat tersebut diwarnai dengan egoisme dan ketidakteraturan.
Masyarakat yang harmonis terbentuk dari perilaku masing-masing warga masyarakat yang sesuai dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku. Keharmonisan kehidupan masyarakat akan menciptakan suasana masyarakat yang sehat dan teratur.
Seperti halnya dengan tubuh yang selalu menghadapi kemungkinan adanya berbagai jenis penyakit yang berpengaruh terhadap kesehatan, di tengah masyarakat juga terdapat berbagai jenis penyakit yang dapat merongrong kondisi keharmonisan dan keteraturan sosial. Hal-hal yang dapat mengakibatkan situasi lingkungan masyarakat yang tidak sehat disebut sebagai penyakit sosial. Penyakit sosial merupakan bentuk kebiasaan berperilaku sejumlah warga masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berpengaruh terhadap kehidupan warga masyarakat.
MACAM-MACAM PENYAKIT SOSIAL
Penyakit sosial merupakan bentuk kebiasaan masyarakat yang berperilaku tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial, sehingga menghasilkan perilaku menyimpang. Beberapa kebiasaan warga masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai bentuk penyakit sosial antara lain kebiasaan minum-minuman keras, berjudi, menyalahgunakan narkoba, penyakit HIV/AIDS, penjaja sex komersial (PSK), dan sebagainya.
1. Minum-Minuman Keras
Minuman keras atau sering disingkat miras adalah minuman yang mengandung alkohol. Minuman beralkohol dikategorikan menjadi tiga golongan berdasarkan kadar alkohol yang terkadung di dalamnya, yaitu:
a. Minuman beralkohol golongan A, mempunyai kandungan alkohol sebanyak 1 % sampai 5 %.
b. Minuman beralkohol golongan B, mempunyai kadar alkohol lebih dari 5 % sampai 20 %.
c. Minuman beralkohol golongan C, mempunyai kadar alkohol lebih dari 20 % sampai 55 %.
Alkohol termasuk zat adiktif, yakni zat yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. Di samping itu, alkohol juga termasuk golongan depresan yang dapat memperlambat aktivitas otak dan sistem saraf. Sifat alkohol yang antiseptik sebagai larutan pelawan kuman sering dipergunakan oleh tenaga medis (dokter, perawat, bidan) untuk membersihkan peralatan yang akan dipergunakan untuk kegiatan pengobatan, misalnya alat suntik, mencuci peralatan operasi bedah, mensterilkan ruangan, dan sebagainya.
Masyarakat Eropa adalah kelompok masyarakat yang terbiasa meminum minuman beralkohol untuk menghangatkan tubuh guna melawan dinginnya lingkungan. Akan tetapi, mereka meminum alkohol tidak lebih dari satu gelas kecil (sloki) berukuran 10 ml dan hanya beberapa teguk saja, itu pun dilakukan tidak setiap saat.
Minum minuman beralkohol dalam jumlah banyak dapat menimbulkan mabuk bahkan tak sadarkan diri, karena alkohol berpengaruh terhadap kerja dan fungsi susunan saraf. Pemakaian alkohol dalam jangka waktu lama akan menimbulkan kerusakan pada organ hati dan otak serta menimbulkan efek ketergantungan.
Orang yang kecanduan alkohol akan menunjukkan gejala-gejala seperti mual, gelisah, gemetar, sukar tidur. Pengaruh alkohol mengakibatkan perilaku emosional, tak terkendali, dan agresif. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa banyak pelaku tindak kriminal selalu diawali dengan meminum minuman keras, sehingga tindakannya bisa di luar batas perikemanusiaan.
2. Judi
Judi merupakan kegiatan permainan yang bertujuan memperoleh uang tanpa bekerja dan hanya mengandalkan faktor spekulasi.
Permainan judi selalu dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi yang bertujuan memperoleh uang secara cepat tanpa bekerja melalui suatu permainan. Kebiasaan berjudi membuat orang menjadi malas dan tidak mau bekerja, tetapi mempunyai ambisi besar untuk mendapatkan uang dalam jangka waktu singkat.Seperti halnya miras, berjudi dapat membuat orang ketergantungan, sehingga ia rela menghabiskan waktu dan pikirannya hanya untuk berjudi.
Kebiasaan berjudi akan membentuk seseorang tumbuh menjadi pribadi yang cenderung emosional, tidak sabaran, tidak mampu berfikir logis, dan pemalas.
3. Narkoba
Istilah narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, narkotika diartikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Menurut Dr D.J. Siregar, istilah narkotika berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “narkotikos”, yang berarti keadaan seseorang yang kaku seperti patung atau tidur.
Dalam dunia kedokteran narkoba sangat diperlukan sebagai sarana pengobatan. Misalnya sebagai obat penenang atau obat bius dan penghilang rasa sakit pada pasien.
Orang yang menyalahgunakan pemakaian narkoba merupakan bentuk penyalahgunaan yang bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga mengganggu lingkungan sosial akibat sikap yang ditimbulkan dari ketergantungan terhadap narkoba. Orang yang mengalami ketergantungan pada narkoba biasanya akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan narkoba, seperti mencuri, merampok, dan merampas. Penyalahgunaan narkoba seringkali menyebabkan masalah kejiwaan dan kesehatan yang serius bagi penggunanya. Kehidupan sosial pemakai narkoba menjadi terganggu, sukar bergaul dan cenderung mudah terpengaruh tindak kejahatan.
Pengaruh narkoba terhadap tubuh yang sehat akan mengakibatkan gangguan mental dalam bentuk emosional, perilaku tidak terkendali, penurunan daya ingat yang sangat drastis, kerusakan sistem saraf otak. Adapun secara umum, ciri-ciri pemakai narkoba antara lain:
a. daya konsentrasi menurun,
b. malas, gairah untuk hidup hilang,
c. tidak peduli terhadap keadaan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya,
d. tidak mampu menggunakan akal pikirannya secara sehat,
e. sangat sensitif, emosional, dan agresif,
f. ketergantungan terhadap narkoba akan menimbulkan rasa sakit pada sekujur tubuh.
4. Penyakit HIV/AIDS
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh akibat infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Tubuh yang terserang AIDS akan rentan terhadap infeksi penyakit, sehingga mengakibatkan kematian. Saat ini, AIDS telah tersebar luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Virus HIV tersebar melalui pertukaran cairan tubuh, seperti darah, sekreta dari alat kelamin (cairan semen dan cairan vagina),
dan air susu. Oleh sebab itu, HIV menular lewat hubungan seksual dengan penderita HIV (baik melalui anus atau vagina), kontak melalui darah dan produk-produk darah (misalnya serum), serta kegiatan menyusui dari ibu penderita HIV kepada anak yang disusuinya.
Meskipun HIV juga terdapat dalam air ludah dan urin, namun virus ini tidak cukup kuat untuk menyebabkan infeksi. Kontak biasa dengan orang yang terinfeksi HIV, seperti mengobrol, bersalaman, makan bersama, dan berenang, tidak akan menularkan HIV.
Selain menimbulkan gejala influenza, seperti demam, pusing, dan hidung tersumbat, seseorang yang terinfeksi HIV juga mengalami beberapa gejala, seperti batuk, penurunan berat badan, pembesaran kelenjar getah bening, gangguan penglihatan, serta gangguan saraf dan otak. Para pecandu narkoba yang terinfeksi HIV sering mengalami gejala tambahan, seperti penyakit kuning, sesak napas, dan jantung berdebar-debar. Apabila jumlah sel turun sampai di bawah 200 sel per mikroliter darah, orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala-gejala infeksi oporturiistik dan kanker, seperti pneumonia pneumosistis (infeksi paru-paru), sitomegalovirus, herpes, serta kanker sarkoma kaposi (kanker pembuluh darah) dan kanker leher rahim.
5. PSK
Pekerja sex komersial (PSK) merupakan salah satu bentuk penyakit sosial yang tertua di dunia. Kegiatan PSK yang disebut sebagai prostitusi telah dikenal sejak zaman Romawi Kuno.
Meskipun upaya pemberantasan terus-menerus dilakukan, tetapi praktik prostitusi tetap saja marak di masyarakat, baik yang berlangsung secara terang-terangan maupun secara terselubung dengan berkedok dan membaur dalam kegiatan sosial lainnya.
Pada umumnya kegiatan prostitusi berlatar belakang pada faktor kesulitan ekonomi. Namun secara psikologis, prostitusi merupakan bentuk kelainan mental yang hanya dapat berhenti atas kesadaran pelaku semata. Oleh karena itu, meskipun pelaku prostitusi dijaring, dibina, dan diberi aneka keterampilan agar bekerja secara sewajarnya, namun tetap saja ia akan kembali menekuni prostitusi sebagai pilihan hidupnya apa pun risikonya.
Melalui prostitusi inilah akan berkembang subur penyakitpenyakit sosial lainnya, sehingga terciptalah mata rantai yang tidak terputus, bahkan saling terkait misalnya antara prostitusi dengan miras, penyalahgunaan narkoba, perjudian, dan proses penularan penyakit HIV/AIDS.
6. Kenakalan Remaja
Usia remaja erat kaitannya dengan perubahan sikap dan pola perilaku pada diri seseorang. Suatu hal yang alamiah bahwa dunia remaja selalu diwarnai dengan perilaku-perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma yang telah diserapnya, karena keinginannya untuk menemukan jati diri dan adanya dorongan untuk tidak mau dikendalikan oleh orang lain. Dalam kondisi alamiah inilah peran orang tua sebagai penanggung jawab mengenai perilaku anak-anak sangat diharapkan. Kecenderungan remaja terikat dengan lingkungan sosial sebayanya memudahkan remaja terbawa arus lingkungannya. Oleh karena itu, orang tua wajib mengenali secara benar siapa saja teman sebaya anaknya yang sedang memasuki masa remaja.
Kenakalan remaja merupakan bentuk aktivitas sekelompok remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Sesuai dengan sifat remaja yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan emosi, perilaku mereka mencerminkan gejolak emosi tanpa mempedulikan lingkungannya. Misalnya kebut-kebutan, membikin keonaran/keributan, dan selalu melakukan aktivitas-aktivitas untuk memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Mudahnya remaja terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, miras, merokok bahkan tindak kejahatan merupakan bentuk perilaku menyimpang yang selalu berawal dari iseng atau coba-coba yang membuatnya mudah terjerumus ke perilaku menyimpang.

Rabu, 27 November 2013

Diposting oleh Anita Puspa Sari di 03.01
Reaksi: 
0 komentar

Masih Perlukah Menyadarkan Kepedulian terhadap Sesama?


Bila diperhatikan dengan baik, jarang sekali masyarakat kota jaman sekarang yang peduli entah dengan lingkungan atau dengan orang lain. Walaupun ada mungkin hanya sepuluh diantara seribu orang yang peduli. Sebenarnya apa sih penyebabnya? Nah, dalam kesempatan menulis kali ini saya akan mencoba membagikan penyebab ketidakpedulian masyarakat kota menurut pandangan dan pengamatan saya.
1. Gengsi
Dilihat-lihat orang kota itu aneh ya?Berbuat baik aja gengsi. Takut dibilang sok baik lah, sok peduli lah. Baru dibilang begitu udah menciut, langsung gajadi. Dan ketika hal ini terjadi berkali-kali, lama kemudian orang baik yang dihasut temannya pun malas untuk peduli.
2. Individualis
Mungkin yang satu ini adalah sifat yang sebenarnya bukan sifat dasar manusia, akan tetapi dapat berubah karena tuntutan lingkungan sekitar tempat hidup. Di kota besar, tentu saja setiap orang memiliki prioritas bekerja untuk memperoleh penghasilan yang besar. Dapat diakui semangat dan daya juang nya tinggi, akan tetapi prioritas juang mereka bukan untuk orang yang tidak dekat dengan mereka melainkan untuk orang terdekat dan tersayang seperti keluarga. Di luar itu mereka tidak akan peduli. Niatnya mungkin baik, “membahagiakan keluarga” tetapi kita hidup di dunia ini kan tidak selamanya dengan keluarga, tentu ada interaksi dengan masyarakat luar walaupun dalam pikiran kita mereka tidak berarti untuk kita. Berbeda dengan di desa yang masyarakatnya sangat akur, suka bergotong-royong dalam setiap ada kesempatan. Tidak peduli mereka adalah keluarga atau bukan, tetapi masyarakat desa lebih menganggap tetangga adalah bagian dari hidup mereka. Walaupun tidak dapat dikatakan akur semua, at least masyarakat desa lebih punya jiwa sosial yang baik. Kenapa saya dapat berkata demikian? Ya karena saya tinggal di desa selama 11 tahun.
3. Pendidikan rendah?Mana mungkin
Pengecualian untuk masyarakat yang kurang mampu, pendidikan rendah mungkin saja menjadi penyebab. Karena kurangnya pendidikan, mereka tidak memiliki panutan yang baik karena mungkin saja sulit bagi mereka untuk membedakan yang mana yang real baik dan mana yang real buruk. Sehingga mereka menilai warga yang kaya adalah warga yang berpendidikan dan dapat dijadikan panutan dalam bertindak. Masalahnya, yang berpendidikan aja belum tentu benar, pintar mungkin dapat tapi hati?Hanya orang yang bersangkutan dan Tuhan lah yang tahu. Untuk warga yang mampu ke atas tidak sulit untuk mendapat pendidikan yang tinggi atau bahkan sampai melanjutkan pendidikan di negeri seberang itu semua adalah hal mudah. Kembali lagi ke hati, hati manusia itu sulit di tebak. Apakah mereka berpendidikan untuk memajukan diri sendiri atau bangsa dan tanah air? Jika hanya sebatas memajukan diri sendiri, apapun pasti akan dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Mudah saja, dengan mencontek, membeli soal karena mereka memiliki uang semuanya beres. Jadi untuk saat ini, pendidikan tinggi tidak menjamin kepandain dalam mengolah hati.
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 02.46
Reaksi: 
0 komentar
Etika Umum Orang Jepang yg perlu kita tahu 

Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat sopan dan perasa sehingga etika adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Walaupun mereka tidak mengharapkan orang luar Jepang mengikuti kebiasaan mereka sepenuhnya, tetapi usaha untuk mengikuti tata-krama Jepang akan sangat dihargai.

MEMBUNGKUK:
Meskipun mengucapkan salam sambil membungkuk adalah hal yang amat sering kita temui diantara orang-orang Jepang, tapi bagi orang luar negeri, jabatan tangan waktu berkenalan juga sering digunakan, diikuti dengan anggukan yang sopan. Sikap semakin membungkuk menunjukkan derajat hormat seseorang.

KARTU NAMA :
Berkenalan dengan orang Jepang sering dimulai dengan saling bertukar kartu nama, terutama bagi bisnisman. Dalam kartu nama biasanya tercantum nama, posisi dan alamat. Waktu menerima kartu nama pada pertemuan formil, pelajarilah secara seksama kartu nama yang diterima dan letakkanlah secara hati-hati diatas meja. Jangan sekali-sekali memberikan coretan pada kartu nama orang lain apa lagi memasukkannya ke kantong celana belakang. Ini adalah tindakan yang sangat merendahkan.

HADIAH :
Dalam kehidupan sosial bangsa Jepang, memberi dan menerima hadiah adalah bagian yang penting. Hadiah biasanya tidak langsung dibuka di hadapan pemberi hadiah.

CARA DUDUK :
Dalam ruangan tatami biasanya tidak terdapat kursi atau bangku. Tata-krama Jepang mengharuskan pria/wanita duduk dengan kaki dilipat dalam suasana formil. Setelah beberapa saat, bila kaki kita sudah terasa kesemutan, wanita dapat duduk menyamping dan pria dapat duduk bersila.

MASKER :
Gunakanlah masker waktu terserang influensa, supaya tidak menularkan penyakit itu kepada orang lain. Sebab itu di jalan-jalan akan sering kita temukan orang-orang Jepang yang bermasker.

AJAKAN DATANG KE RUMAH
Kalau mendapatkan ajakan main ke rumah (asobini kite kudasai) untuk pertama kali, sebaiknya kita menolak dengan mengucapkan terima kasih. Seringkali ajakan tersebut bukan ajakan yang sebenarnya. Apabila tuan rumah memang serius hendak mengundang, maka ia akan mengulangi ajakan tersebut. Untuk yang ketiga kalinya, barulah kita menerima ajakan atau undangan main tersebut dengan membuat janji.

BERKUNJUNG :
Bila tuan rumah hanya mengundang satu orang saja, maka sebaiknya tidak mengajak teman waktu berkunjung. Bawalah sekedar oleh-oleh, ketuklah pintu tidak lebih dari 2 kali, kalau tidak terdengar ulangi sekali lagi. Tinggalkan sepatu yang kita pakai dalam keadaan terjejer rapi, dan untuk pelayanan kepada tamu biasanya nyonya rumah akan merapikan dan letak sepatu kita menghadap ke luar rumah agar kita dapat segera menggunakannya kembali saat meninggalkan rumah.

TOILET :
Apapun jenisnya tidak tersedia gayung ataupun ember untuk menyiram di dalam toilet. Gunakanlah kertas toilet yang tersedia untuk membersihkan diri, sehingga tidak membasahi toilet yang biasanya selalu dalam keadaan kering.

MENJADI TETANGGA BARU

Ketika baru saja menempati rumah atau apartment baru, sebaiknya menyempatkan diri memperkenalkan diri kepada tetangga. Kalau bisa, dengan membawa hadiah seperti handuk atau sabun yang dibungkus rapi. Utamakan tetangga bawah dulu, kemudian tetangga kanan dan kiri. Alasannya, tetangga bawah kita adalah tetangga yang kemungkinan besar paling terganggu dengan suara-suara ketika kita sedang mengatur barang-barang pindahan
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.22
Reaksi: 
0 komentar

MASALAH PENDIDIKAN KHUSUSNYA BAGI RAKYAT MISKIN

Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Karena perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dapat diukur melalui tingkat dan kualitas pendidikan serta tingkat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan. Namun, sampai saat ini masih banyak orang miskin yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan dan orang miskin memang tidak ada biaya untuk pendidikan dikarenakan lebih mengutamakan biaya untuk makan.
Semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran tanpa terkecuali, baik ”yang kaya” maupun ”yang miskin” dan masyarakat perkotaan maupun pedesaan (terpencil). Kurang meratanya pendidikan di Indonesia terutama akses memperoleh pendidikan bagi masyarakat miskin dan terpencil menjadi suatu masalah klasik yang hingga kini belum ada langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk menanganinya
Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk.
Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun masih menjadi PR besar. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global. 
Sarana pembelajaran juga menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja.
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah, survey membuktikan bahwa salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Mereka tidak tau apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain.
Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tentang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh.

Adapun soolusi yang dapat dilakukan agar pendidikan bisa teteap berjalan dengan baik:
Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme, yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.19
Reaksi: 
0 komentar

Dampak Buruk Rokok Bagi Kesehatan 

Dampak Buruk Rokok Bagi Kesehatan
Image by : © Mpanch | Dreamstime.com
Tampaknya kita semua sudah tahu bahwa rokok berdampak buruk bagi kesehatan. Cuma masalahnya  bagi perokok, karena sudah kecanduan, tidak mudah bagi mereka untuk meyakinkan diri agar tidak merokok. 

Bagi perokok, kadang-kadang yang menjadi patokan dampak merokok buat mereka adalah gangguan pernapasan. Sehingga jika mereka tidak batuk dan tidak sesak napas, mereka masih tetap merokok. Padahal efek samping dari merokok tidak melulu berdampak pada saluran pernapasan. Tampaknya mereka harus “kapok” terlebih dahulu sebelum berhenti merokok.

Pasien yang mengalami kanker, antara lain kanker lidah, kanker usus besar,  kanker paru atau kanker pankreas akan menyesali kenapa mereka merokok setelah menderita kanker.  Rasanya cerita dampak buruk rokok pada seseorang akan selalu kita alami terjadi pada keluarga kita. Apalagi saya yang sehari-sehari bertemu dengan pasien, melihat langsung dampak rokok pada kesehatan seseorang. Kalau penyakit akibat rokok tidak terlalu berat biasanya pasien hanya mengurangi sedikit rokoknya dan kembali lagi untuk merokok setelah sehat. Tetapi jika dampak sakit pada perokok tersebut cukup berat biasanya mereka berhenti merokok total.

Serangan stroke ringan atau TIA juga kadang kala membuat kapok seorang perokok untuk tidak merokok lagi. Para perokok yang mengalami hipersensitivitas pada saluran pernapasannya di mana jika mulai merokok, maka akan merasakan sesak, pasti tidak akan pernah mencoba untuk merokok. Serangan jantung juga biasanya membuat kapok seseorang untuk tidak merokok kembali.

Dampak lain yang sebenarnya tidak diketahui oleh para perokok bahwa rokok akan menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan atas seseorang. Mereka yang merokok sering merasa begah, cepat kenyang dan kembung. Rokok juga menyebabkan asam lambung naik kembali ke kerongkongan atau refluks yang mencetuskan penyakit GERD. Belum lagi rokok juga dapat merusak gusi serta gigi geligi.

Mereka umumnya tidak nafsu makan karena lambungnya sudah terasa penuh dengan gas akibat hirupan asap rokok. Kondisi hipoksia kronis pada seseorang perokok juga dapat mencetuskan penurunan nafsu makan. Oleh karena itu kita sering mendengar seseorang perokok yang berhenti merokok berat badannya akan naik karena nafsu makannya bertambah atau menjadi meningkat setelah berhenti merokok. (Dr.Ari Fahrial Syam, Ketua Bidang Advokasi PB.PAPDI dan Praktisi Kesehatan)
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.18
Reaksi: 
0 komentar
 Kalau kita membicarakan dan membahas tentang pergaulan bebas,sudah pasti kita akan berhubungan dengan anak remaja karena banyak korbannya adalah dari kalangan remaja.Masa remaja bagi semua orang dan juga menurut saya adalah masa yang paling indah atau berseri.Di masa itu juga proses pencarian jati diri seseorang berlangsung.Dan pada proses itulah banyak para remaja yang terjebak ke dalam pergaulan bebas tersebut karena tidak mengetahui dampak buruk bagi dirinya sendiri.Pergaulan bebas di kalangan remaja saat ini telah mencapai titik kekhawatiran yang sangat tinggi atau cukup parah,terutama seks bebas dan penggunaan obat-obatan terlarang.
          Oleh karena itu tidak aneh jika jumlah penderita HIV/AIDS dan wanita terutama dari kalangan remaja/anak sekolah yang hamil di luar nikah.Hal ini di karenakan sekarang mereka sangat begitu  mudah memasuki tempat-tempat khusus orang-orang dewasa.Bahkan sekarang pelakunya bukan saja mahasiswa dan anak SMA saja,namun sudah merambat sampai ke anak SMP.
Dan pada saat ini banyak sekali orang-orang yang melakukan perbuatan keji dan tidak berkeprimanusiaan untuk menutupi aib nya,yaitu dengan melakukan aborsi.Padahal mereka tahu akibat aborsi sangat berbahaya bagi kesehatan tubuhnya sendiri dan keselamatannya secara fisik.Bahkan bukan hanya pada kesehatan dirinya sendiri, tetapi juga sangat berdampak hebat bagi keadaan mental seseorang yang melakukan aborsi tersebut.Namun demi menutupi aib yang ia timbulkan sendiri,ia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri. Oleh karena itu jika tidak secepatnya di  atasi,akibat pergaulan bebas ini akan sangat membawa dampak negatif dan efek yang buruk bagi perkembangan zaman.
Awal mula seorang remaja terjerumus ke dalam pergaulan bebas adalah salah bergaul dan mudah terpengaruh oleh temannya yang tidak benar.Kebanyakan remaja ini ingin di puji dan di katakan gaul oleh teman-temannya tanpa memikirkan dampak dan akibat yang berkelanjutan.Maksud dari salah bergaul adalah bukan berarti kita harus memilih milih dalam bergaul, kita boleh saja bergaul dengan siapa pun asalkan kita jangan mudah terpengaruh dan tetap berpegang teguh kepada norma-norma agama dan norma hukum yang berlaku,karena gaul tidak harus melakukan seks bebas,tidak harus menggunakan obat-obatan terlarang,dan semua hal yang melanggar hukum.Oleh karena itu kita sebagai remaja harus membiasakan berfikir panjang ke depan sebelum melakukan sesuatu hal,apalagi yang belum kita ketahui dampak baik dan buruknya bagi diri kita,keluarga dan orang lain.
Di bawah ini saya memiliki opini beberapa faktor utama yang menjadi penyebab dan awal mula seorang remaja terjerumus ke dalam pergaulan bebas,yaitu :
  • Faktor agama dan faktor iman, faktor ini adalah hal yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Apabila kurang pengetahuan akan agama dan kurangnya iman yang tertanam di dalam diri kita,maka akan sangat mudah setan-setan yang ada di dalam diri atau fikiran kita mendorong untuk melakukan hal-hal negatif yang sangat bertentangan dengan agama dan hukum yang berlaku.Namun jika memiliki pengetahuan akan agama dan iman yang kuat, insya allah kita tidak akan mudah terpegaruh dan terjerumus ke dalam hal-hal negatfi tersebut.Karena otomatis kita akan langsung memikirkan dampak apa yang akan terjadi ke depannya atau di kemudian hari.
  • Faktor lingkungan seperti orang tua, teman dan tetangga, ya di dalam faktor ini tidak sedikit anak remaja yang terjerumus kedalam pergaulan bebas di karenakan ada masalah di dalam keluarganya atau yang sering mereka sebut dengan broken home.Dan yang menjadi penyebab yang sering terjadi juga adalah karena terjerumus atau terpengaruh oleh temannya demi mendapatkan pujian atau ingin di bilang “gaul”.
  • Faktor pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang tinggi, kurangnya pengetahuan akan dampak dan akibat akan hal yang kita lakukan dapat memudahkan kita terjerumus ke dalam hal hal yang negatif. Pada umumnya kita sebagai seorang remaja memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, apabila menemukan atau melihat suatu hal yang baru maka otomatis kita akan ingin merasakannya atau mencobanya.
  • Faktor perubahan zaman, faktor ini juga adalah hal yang cukup kuat menjadi penyebab pergaulan bebas di kalangan remaja. Karena di zaman sekarang banyak media yang mudah di akses oleh semua umur yang menyediakan tayangan tanyangan yang seharusnya hanya di tayangkan khusus orang dewasa.Namun karena rasa ingin tahu yang sangat tinggi yang mendorong para remaja menggunakan atau melihat media untuk orang dewasa tersebut.Setelah melihat,otomatis rasa ingin tahu itu pun akan terus berkembang seperti ingin mengetahui rasa dan ingin mencoba hal yang baru dia lihat.Oleh karena itu pengawasan orang tua adalah hal yang sangat penting dalam faktor ini.
Namun semuanya kembali ke diri kita sendiri, mau menjadi orang yang seperti apa kita ? Jauhilah pergaulan bebas dan hal hal negatif yang berdampak sangat merugikan bagi diri  kita sendiri. Kita harus dapat menempatkan diri sebagai remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama dan norma hukum yang berlaku agar terhidar dari hal-hal tersebut.Ingat lah kita sebagai remaja adalah calon penerus bangsa di masa depan, oleh karena itu jika kita melakukan hal-hal yang negatif tersebut mau jadi apa negara kita nanti ! Maka mulai sekarang cobalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME untuk mempertebal keimanan kita, karena iman adalah dasar yang paling utama di dalam diri kita sendiri.
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.14
Reaksi: 
0 komentar
Hindarkan Remaja Dari Narkoba
Hindarkan Remaja dari Narkoba
Pergaulan dan perilaku remaja saat ini cukup memprihatinkan. Berbagai kasus yang melibatkan remaja hampir setiap hari menghiasi pemberitaan di media massa. Kondisi tersebut cukup membuat kita miris. Apa jadinya, jika anak yang kita cintai terlibat dalam hal-hal yang dapat merusak masa depannya?
Berbagai kasus terjadi di kalangan remaja, diantaranya, tawuran, seks bebas, penyalahguaan narkoba dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya, dari tangan-tangan mereka itulah perjalanan negara ini akan dilanjutkan. Jika mereka terus terlibat dalam perbuatan negatif tersebut, bagaimana kelanjutan bangsa ini nantinya?
Masa remaja merupakan periode antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa ini sangat berperan penting bagi perkembangan kehidupan remaja pada masa mendatangnya. Bila seorang remaja pernah memakai narkoba, jika tidak cepat diantisipasi, maka kemungkinan besar dia akan menggunakan narkoba hingga ia dewasa. Hal itu tentu saja dapat merusak kehidupan dan cita-citanya pada masa mendatang.
Pada periode remaja, rasa ingin tahu (mencoba-coba), mengikuti trend, gaya hidup, bersenang-senang, dan rasa untuk dihargai oleh teman-temannya sangatlah besar. Sehingga hal itu dengan mudah dapat membuat remaja untuk menggunakan narkoba dalam kehidupannya. Berdasarkan data yang diperoleh dari sejumlah referensi, terbukti yang paling banyak mengonsumsi narkoba adalah dari kelompok remaja.
Masalah ini semakin sulit lagi jika mereka menggunakan narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bergantian. Sehingg berbagai penyakit rentan menular seperti HIV/AIDS yang dapat menyebar dengan mudah. Bila terus dibiarkan akan merusak kehidupan anak bangsa dan tentunya akan merusak sumber daya manusia suatu negara.
Dalam kondisi ini, kita tidak serta merta menyalahkan mereka. Peran orang tua, guru, dan pemerintah sangat penting dalam hal ini. Segala usaha haruslah kita lakukan guna bisa menyelamatkan mereka dari lingkaran hitam narkoba.
Sejumlah cara dapat dilakukan untuk menghindarkan mereka dari bahaya narkoba. Misalnya, pertama, memberikan penyuluhan/penyebaran informasi akan bahaya narkoba. Hal ini dapat dilakukan melalui banyak cara, contohnya, penyuluhan di sekolah, melalui iklan layanan masyarakat, pendekatan melalui keluarga, dan melalui kegiatan positif yang berhubungan dengan anti narkoba. Instansi pemerintah, harus lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.
Kedua, melakukan kegiatan positif misalnya berolah raga, dan melaksanakan bakti sosial sehingga remaja tidak akan berpikiran untuk menggunakan narkoba karena mereka sibuk dengan aktifitas baik yang mereka lakukan. Ketiga, peduli dengan kawan yang mungkin akan atau sudah menggunakan narkoba dengan memberikan peringatan serta nasihat kepada mereka.
Keempat, orang tua selalu melakukan pendekatan kepada anaknya. Ada beberapa trik dan tips yang dapat dilakukan saat berkomunikasi dengan anak adalah, diantaranya, perhatikan ekspresi/mimik muka dan bahasa tubuh anak. Apakah si anak gugup atau merasa tidak nyaman, seperti merengut, memainkan tangannya, menggoyang kaki, tidak berani menatap mata kita atau seringkali melihat jam dan sebagainya?  Atau si anak terlihat tenang, tersenyum atau menatap langsung mata kita? Bacalah tanda-tanda ini untuk mengetahui perasaan si anak yang sebenarnya.
Sepanjang diskusi dengan si anak berlangsung, perhatikan apa yang dikatakannya. Bila diskusi ini dilakukan dengan posisi duduk, dekatkanlah diri denganya. Bila dilakukan dengan berjalan, peluklah bahunya. Dan sering-seringlah melakukan kontak mata.
Tanggapilah apa saja yang dikatakan oleh sang anak. Remaja sangat suka apabila apa yang dikatakanya ditanggapi oleh pendengar. Namun, gunakanlah bahasa yang baik dan tidak momojokkannya pada posisi yang tidak menguntungkannya. Jangan mengabaikan hal yang tidak mau didengar darinya. Karena, biasanya hal itulah yang merupakan hal penting dari masalah tersebut.
Berusahalah mengerti apa yang dirasakan si anak pada posisi itu. Jangan langsung memberikan nasihat atas apa dari setiap kata yang diucapkan oleh anak. Sebaiknya selesaikan hingga ia selesai, yakinkan bahwa kita mengerti apa yang dimaksud oleh sang anak.
Buah hati kita adalah harapan untuk masa depan. Bagaimana masa depan mereka akan indah jika dalam perjalanannya telah "dihabisi" oleh narkoba. Untuk itu, peran kita semua menyelamatkan mereka dari bahaya "barang-barang haram" itu harus kita tingkatkan. Jika semua pihak ikut andil dalam menyelamatkan generasi penerus bangsa dari bahaya narkoba, Insya Allah, kita akan bisa melihat senyum mereka di masa depan. (pas)
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.05
Reaksi: 
0 komentar

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR
MASALAH SOSIAL YANG TERJADI DI MASYARAKAT

      Pengertian Masalah Sosial dan Jenis/Macam Masalah Sosial Dalam Masyarakat :
      
      Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
     
      Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
1. Faktor Ekonomi, faktor ini merupakan faktor terbesar terjadinya masalah sosial. Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di mana-mana dan bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit mencari pekerjaan.
2.Faktor Budaya, Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang berdampak negatif seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar suatu bangsa merekalah yang meneruskan perjuangan yang telah dibangun sejak dahulu.
3.Faktor Biologis, Penyakit menular bisa menimbulkan masalah sosial bila penyakit tersebut sudah menyebar disuatu wilayah atau menjadi pandemik.
4.Faktor Psikologis, Aliran sesat sudah banyak terjadi di Indonesia dan meresahkan masyarakat walaupun sudah banyak yang ditangkap dan dibubarkan tapi aliran serupa masih banyak bermunculan di masyarakat sampai saat ini.

       Masalah sosial menemui pengertiaannya sebagai sebuah kondisi yang tidak diharapkan dan dianggap dapat merugikan kehidupan sosial serta bertentangan dengan standar sosial yang telah disepakati. Keberadaan masalah sosial ditengah kehidupan masyarakat dapat diketahui secara cermat melalui beberapa proses dan tahapan analitis, yang salah satunya berupa tahapan diagnosis. Dalam mendiagnosis masalah sosial diperlukan sebuah pendekatan sebagai perangkat untuk membaca aspek masalah secara konseptual. Eitzen membedakan adanya dua pendekatan yaitu person blame approach dan system blame approach (hlm. 153).
      Person blame approach merupakan suatu pendekatan untuk memahami masalah sosial pada level individu. Diagnosis masalah menempatkan individu sebagai unit analisanya. Sumber masalah sosial dilihat dari faktor-faktor yang melekat pada individu yang menyandang masalah. Melalui diagnosis tersebut lantas bisa ditemukan faktor penyebabnya yang mungkin berasal dari kondisi fisik, psikis maupun proses sosialisasinya.
      Sedang pendekatan kedua system blame approach merupakan unit analisis untuk memahami sumber masalah pada level sistem. Pendekatan ini mempunyai asumsi bahwa sistem dan struktur sosial lebih dominan dalam kehidupan bermasyarakat. Individu sebagai warga masyarakat tunduk dan dikontrol oleh sistem. Selaras dengan itu, masalah sosial terjadi oleh karena sistem yang berlaku didalamnya kurang mampu dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk penyesuaian antar komponen dan unsur dalam sistem itu sendiri.
       Dari kedua pendekatan tersebut dapat diketahui, bahwa sumber masalah dapat ditelusuri dari ”kesalahan" individu dan "kesalahan" sistem. Mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut akan sangat berguna dalam rangka melacak akar masalah untuk kemudian dicarikan pemecahannya. Untuk mendiagnosis masalah pengangguran misalnya, secara lebih komprehensif tidak cukup dilihat dari faktor yang melekat pada diri penganggur saja seperti kurang inovatif atau malas mencari peluang, akan tetapi juga perlu dilihat sumbernya masalahnya dari level sistem baik sistem pendidikan, sistem produksi dan sistem perokonomian atau bahkan sistem sosial politik pada tingkat yang lebih luas.

        Anak jalanan: Dilema? Sebenarnya isltilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di Amerika Selatan atau Brazilia yang digunakan bagi kelompok anak-anak yang hidup dijalanan umumnya sudah tidak memiliki ikatan tali dengan keluarganya.Anak-anak pada kategori ini pada umumnya sudah terlibat pada aktivitas-aktivitas yang berbau criminal. Kelompok ini juga disebut dalam istilah kriminologi sebagai anak-anak dilinguent. Istilah ini menjadi rancu ketika dicoba digunakan di negara berkembang lainnya yang pada umumnya mereka masih memiliki ikatan dengan keluarga. UNICEF kemudian menggunakan istilah hidup dijalanan bagi mereka yang sudah tidak memiliki ikatan keluarga, bekerja dijalanan bagi mereka yang masih memiliki ikatan dengan keluarga. Di Amerika Serikat juga dikenal istilah Runauay children yang digunakan bagi anak-anak yang lari dari orang tuanya.
        Walaupun pengertian anak jalanan memiliki konotasi yang negatif di beberapa negara, namun pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai anak-anak yang bekerja dijalanan yang bukan hanya sekedar bekerja di sela-sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaannya maka mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik secara jasmnai, rohani dan intelektualnya. Hal ini disebabkan antara lain karena jam kerja panjang, beban pekerjaan, lingkungan kerja dan lain sebagainya.
         Anak jalanan ini pada umumnya bekerja pada sector informal. Phenomena munculnya anak jalanan ini bukanlah karena adanya transformasi system social ekonomi dan masyarakat pertanian ke masyarakat pra-industri atau karena proses industrialisasi. Phenomena ini muncul dalam bentuk yang sangat eksploratif bersama dengan adanya transformasi social ekonomi masyarakat industrialsasi menuju masyarakat yang kapitalistik.
         Kaum marjinal ini selanjutnya mengalami distorsi nilai, diantaranta nilai tentang anak. Anak, dengan demikian bukan hanya dipandang sebagai beban, tetapi sekaligus dipandang sebagai factor ekonomi yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Dengan demikian, nilai anak dalam pandangan orang tua atau keluarga tidak lagi dilihat dalam kacamata pendidikan, tetapi dalam kepentingan ekonomi. Sementara itu, nilai pendidikan dan kasih saying semakin menurun. Anak dimotivasi untuk bekerja dan menghasilkan uang.
Dalam konteks permasalahan anak jalanan, masalah kemiskinan dianggap sebagai penyebab utama timbalnya anak jalanan ini. Hal ini dapat ditemukan dari latar belakang geografis, social ekonomi anak yang memang datang dari daerah-daerah dan keluarga miskin di pedesaan maupun kantong kumuh perkotaan. Namun, mengapa mereka tetap bertahan, dan terus saja berdatangan sejalan dengan pesatnya laju pembangunan?
         Ada banyak teori yang bisa menejlaskan kontradiksi-kontradiksi antara pembangunan dan keadilan-pemerataan, desa dan kota, kutub besar dan kutub kecil, sehingga lebih jauh bia terpetakan lebih jela persoalan hak asasi anak. Meskipun demikian, kemiskinan bukanlah satu-satunya factor penyebab timbulnya masalah anak jalanan. Dengan demikian, adanya sementara anggapan bahwa masalah anak jalanan akan hilang dengan sendirinya bila permasalahan kemiskinan ini telah dapat diatasi, merupakan pandangan keliru.


Masyarakat Dan Negara :
       Parillo menyatakan, kenyataan paling mendasar dalam kehidupan sosial adalah bahwa masyarakat terbentuk dalam suatu bangunan struktur. Melalui bangunan struktural tertentu maka dimungkinkan beberapa individu mempunyai kekuasaan, kesempatan dan peluang yang lebih baik dari individu yang lain (hlm. 191). Dari hal tersebut dapat dimengerti apabila kalangan tertentu dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari kondisi sosial yang ada sekaligus memungkinkan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan, sementara dipihak lain masih banyak yang kekurangan.
      Masalah sosial sebagai kondisi yang dapat menghambat perwujudan kesejahteraan sosial pada gilirannya selalu mendorong adanya tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dalam konteks tersebut, upaya pemecahan sosial dapat dibedakan antara upaya pemecahan berbasis negara dan berbasis masyarakat. Negara merupakan pihak yang sepatutnya responsif terhadap keberadaan masalah sosial. Perwujudan kesejahteraan setiap warganya merupakan tanggung jawab sekaligus peran vital bagi keberlangsungan negara. Di lain pihak masyarakat sendiri juga perlu responsif terhadap masalah sosial jika menghendaki kondisi kehidupan berkembang ke arah yang semakin baik.
        Salah satu bentuk rumusan tindakan negara untuk memecahkan masalah sosial adalah melalui kebijakan sosial. Suatu kebijakan akan dapat dirumuskan dengan baik apabila didasarkan pada data dan informasi yang akurat. Apabila studi masalah sosial dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat maka bararti telah memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan sosial yang baik, sehingga bila diimplementasikan akan mampu menghasilkan pemecahan masalah yang efektif.
        Upaya pemecahan sosial sebagai muara penanganan sosial juga dapat berupa suatu tindakan bersama oleh masyarakat untuk mewujudkan suatu perubahan yang sesuai yang diharapkan. Dalam teorinya Kotler mengatakan, bahwa manusia dapat memperbaiki kondisi kehidupan sosialnya dengan jalan mengorganisir tindakan kolektif. Tindakan kolektif dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih sejahtera.


Sumber : 
http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macam-masalah-sosial-dalam-masyarakat
http://id.shvoong.com/books/1866293-masalah-sosial-dan-upaya-pemecahannya/
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.04
Reaksi: 
0 komentar

CARA MENGGUNAKAN KOMPUTER DENGAN BAIK


Posted by: Komputer dan Kesehatan
Di satu sisi keberhasilan/kemajuan ilmu dan teknologi mampu meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, dan di sisi lain dapat berakibat buruk terhadap hasil peradaban dan kebudayaan yang telah tercipta. Salah satu teknologi yang dimaksud adalah komputer. Sebuah karya jenius Howard Aiken tahun 1944 dan dikenal sebagai tipeHarvard Mark I Computer / Aikens Digital komputer.
Komputer sebagai produk dan sebagai teknologi memiliki keunggulan antara lain :
(1) mampu berakses dengan cepat dan tepat,
(2) menghasilkan informasi dari data yang lampau,
(3) mampu memproses data menjadi informasi
(4) mampu menyimpan data yang sangat banyak (sampai dengan giga byte),
(5) mampu melakukan importing dan exporting data yang dirancang secara khusus.

Dengan hadirnya karya teknologi ini proses-proses konvensional mulai ditinggalkan masyarakat. Kecanggihan produk ini seakan tidak dapat disangkal mengingat seluruh segmen kehidupan tersentuh oleh produk teknologi ini dari kegiatan memerah susu sampai strategi perang. Produk ini mampu mengatasi hambatan ruang dan waktu yang dihadapi oleh manusia. Dengan demikian guru bukan merupakan satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Komputer dan multimedia (1969 dan populer tahun 1992) seakan menjadikan dunia hanya sekepalan tangan. Filosofi yang menyatakan siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), adalah suatu aspek yang harus pertama kali menjadi perhatian setiap melakukan kegiatan apapun, termasuk ketika berkerja dengan komputer. Penelitian telah mengungkapkan bahwa bekerja dengan komputer dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan keselamatan. Oleh karena itu, K3 merupakan aspek yang harus menjadi perhatian apabila bekerja dengan komputer.
Penelitian yang sudah dilakukan menyimpulkan bahwa pengguna komputer dapat menderita nyeri kepala, nyeri otot, dan tulang terutama bahu, pergelangan tangan, leher, punggung, dan pinggang bagian bawah. Selain itu, penggunaan komputer juag masih dapat terserang penyakit lain seperti kesemutan, badan bengkak, anggota badan kaku, sakit ginjal, mata merah, berair, nyeri, dan bahkan ganguan penglihatan.
Posisi tubuh, posisi peralatan komputer, pencahayaan ruangan, dan kondisi lingkungan sangat mempengaruhi kesehtan, keselamatan, dan kenyamanan saat berkerja dengan komputer. 

Dari sisi keselamatan kerja, harus menyadari bahwa komputer yang digunakan dihubungkan dengan listrik yang mempunyai tegangan tinggi. Maka dengan itu harus berusaha mencegah terjadinya resiko tersengat listrik. Untuk itu harus mengatur kabel-kabel listrik sedemikian rupa sehingga terhindar dari sengatan listrik, juga harus memperhatiakn kabel-kabel dari kemungkinan terjadinya arus pendek yang dapat menyebabkan kebakaran dan rusaknya peralatan komputer.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk terhindar resiko bekerja dengan komputer adalah sebagai berikut:
1. Aturlah posisi tubuh saat berkerja denagn komputer sehingga merasa aman.
2. Aturlah posisi perangkat komputer dan ruangan sehingga memberi rasa nyaman.
3. Makan, minum dan istirahatlah yang cukup. Jangan menahan-nahan buang air kecil karena terlalu asyik
berkerja dengan komputer.
4. Sesekali gerakanlah badan untuk megurangi ketegangan otot dan pikiran. Olah ragalah secara teratur.
5. Sesekali alihkan pandangan ke luar ruangan untuk relaksasi mata.

Mengatur Posisi Tubuh

Bahwa posisi tubuh saat berkerja denagn komputer sangat berpengaruh pada kesehatan. Dengan mengetahui posisi tubuh yang memenuhi syarat K3, maka dapat mengatur posisi komputer dan penunjang agar dapat memberikan rasa nyaman.
a. Posisi Kepala dan leher
Pada saat berkerja dengan komputer, posisi kepala dan leher harus tegak dengan wajah menghadap
langsung kelayar monitor. Leher tidak boleh membungkuk atau mengadah karena hal ini dapat menyebabkan sakit pada leher.

b. Posisi Punggung
Posisi punggung yang baik saat menggunakan komputer adalah posisi punggung yang tegak, tidak
miring ke kiri atau ke kanan, tidak membungkuk dan tidak bersandar terlalu miring ke belakang. Untuk mendapatkan posisi punggung yang baik, seharusnya ditunjang dengan tempat duduk yang baik dan nyaman.

c. Posisi Pundak
Posisi pundak yang baik adalah posisi pundak yang tidak terlalu terangkat dan tidak terlalu ke bawah
. Bila otot-otot di bahu masih tegang, ini berarti posisi pundak belum benar.

d. Posisi Lengan dan siku
Posisi lengan yang baik adalah apabial dapat mengetik dan menggunakan mouse yang nyaman. Masing- masing orang mempunyai posisi nyaman tersendiri. Posisi lengan yang baik adalah bila tangan berada disamping badan, dan siku membentuk sudut yang lebih besar dari 90 derajat.

e. Posisi Kaki
Pada saat berkerja dengan komputer, kaki harus dapat diletakan di lantai atau sandaran kaki dengan seluruh tapak kaki menyentuh lantai dan siku yang membentuk sudut tidak kurang dari 90 derajat.
Bagian Ke dua
1. Monitor
Monitor komputer pada umumnya menggunakan tabung gambar (CRT) yang dapat memancarkan intensitas cahaya cukup tinggi untuk diterima oleh mata manusia. Oleh karena itu, bagian dari perangkat ini harus memiliki layar anti radiasi, agar mata terhindar dari kerusakan.
Untuk mengurangi keluhan pada mata, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
a. Letakkan monitor sedemikian rupa diruangan sehingga layar monitor tidak memantulkan
cahaya dari sumber cahaya lain.
b. Letakkanlah monitor lebiih rendah dari garis hoizontal mata, agar tidak mengadah atau menunduk
c. Aturlah cahaya monitor agar tidak terlalu terang dan gelap
d. Sering-seringlah mengedipkan mata untuk menjaga mata tidak kering. Sesekali memandang jauh ke luar ruangan.

2. CPU ( Central Processing Unit )
Bagian dari perangkat komputer ini tidak boleh langsung bersentuhan dengan tangan (basah) karena aliran listrik yang ada pada CPU dapat menyengat manusia.
a. Tangan yang basah baik oleh air atau keringat tidak boleh langsung bersentuhan dengan CPU.
b. Aliran listrik yang ada pada CPU dapat menimbulkan sengatan.

3. Kabel Komputer
Bagian dari perangkat komputer ini harus dihindari dari air, karena dapat menyebabkan hubungan singkat (korsleting). Hubungan singkat ini dapat mengakibatkan kebakaran.
4. Keyboard
Penelitian menunjukan bahwa posisi keyboard merupakan salah satu faktor penyebab nyeri otot dan persendian. Penyebab nyeri otot dan tulang yang disebabkan oleh keyboard adalah penggunaan
jari-jari tertentu saja dalam waktu yang lama.

Hindari tumpahnya air pada keyboard yang dapat menyebabkan:
a. Keyboard hang / rusak
b. Keyboard berlumut kekuning-kuningn dan tidak indah
c. Hubungan singkat



02. Menggunakan komputer dengan posisi yang benar

erikut merupakan petunjuk sederhana dalam menggunakan komputer agar terhindar dari bahaya yang tidak diinginkan.
1. Pandangan Mata
Untuk mengurangi rasa sakit pada mata akibat pandangan fokus ke layar monitor memiliki layar anti silau (filter screen) atau memakai kacamata berwarna.

2. Posisi tubuh / posisi duduk
Posisi tubuh kurang tepat membuat kurang nyaman
Posisi kaki dapat menyanggah lantai
Siku dan Lutut membentuk sudut 90 derajat
Duduk tegak
Keyboard sama tinggi dengan siku agar gerakan tangan dan jemari dapat mengurangi ketegangan
otot dan persendian


3. Letak Pergelangan Tangan, Jemari tangan dan Lengan
Pastikan pergelangan tangan, jemari tangan dan lengan dalam keadaan santai, tidak melengkung dan tegang
Letak posisi yang benar dapat terhindar dari penyakit radang sendi (Repetitive strain Injury-RSI)


4. Beristirahat
Beristirahatlah selama 10 menit setelah berkerja 1 jam di depan komputer agar mata dan organ tubuh lainya juga beristirahat.
Diposting oleh Anita Puspa Sari di 00.02
Reaksi: 
0 komentar

Masalah Sosial di Kalangan Remaja Kini Makin Meruncing

Pengenalan

Berbagai ragam krisis akhlak dan moral kini terus menular, merebak dan mewabak dalam masyarakat kita khasnya di kalangan remaja. Daripada kes bosia, hamil luar nikah yang diikuti dengan pembuangan zuriat di dalam tong sampah, penderaan, gengsterisme dan vandalisme, rogol, sumbang mahram, ketagihan dadah, hinggalah kepada mat rempit.
Pelbagai kes jenayah berlaku turut melibatkan kes Juvana. Dalam tahun 1995 ,1,895 kes melibatkan Juvana. Daripada jumlah itu 406 kes curi kenderaan atau (21.42 peratus), lain-lain kecurian 451 kes (23.80%), pecah rumah malam hari 324 kes (17.10%), curi dalam bangunan/orang gaji 277 kes (14.62%), mendatangkan kecederaan 154 kes (8.13%), pecah rumah siang hari 148 kes (7.81%), rogol 70 kes (3.70%) dan samun 58 kes (3.06%). Perangkaan-perangkaan yang menggerunkan ini menyerlahkan kepada kita betapa seriusnya krisis akhlak yang melanda remaja di negara kita ketika ini.

Ternyata bahawa pendidikan moral kita dengan enam belas nilai teras, pendidikan sivik, pendidikan Islam, pendidikan jarak jauh dan sebagainya; masih jauh untuk dapat menangani kegawatan dan kemerosotan dalam bidang ini. Faktor-faktor tertentu seperti mencari kepuasan nafsu, ingin membebaskan diri dari kemiskinan,kongsi gelap, dadah, bertelingkah dengan ibu bapa , gagal dalam peperiksaan , bosan duduk di rumah, trauma akibat perbuatan seks dan sebagainya rupa-rupanya lebih berpengaruh dari asuhan institusi pendidikan yang sedia ada.

Perkembangan akhlak seseorang boleh dibahagikan kepad tiga tahap :a) Tahap awal kanak-kanak
b) Tahap pertengahan dan akhir kanak-kanak
c) Tahap baligh dan remaja

Peringkat pertama

Dalam peringkat ini kanak-kanak mula membentuk keyakinan kepada persekitarannya. Proses ini amat bergantung kepada belaian ibu yang berterusan di mana ibu memenuhi keperluan emosi dan fisiologinya. Hubungan ibu dan anak dalam peringkat ini perlulah dijaga dan perkukuhkan sehingga kanak-kanak mempunyai keyakinan kepada lingkungan dan alam sekitarnya. Anak-anak yang tidak memperolehi perhatian serta kasih sayang ibu dalam tahap ini perkembangan emosional dan fizikalnya mungkin akan terbantut. Anak tersebut kelihatan lebih kecil dari umurnya yang sebenar.

Dalam peringkat 18 bulan hingga 3 tahun kanak-kanak mula beralih daripada bersandarkan kepada ibu semata-mata. Kanak-kanak mula membentuk keperibadiannya tersendiri, di mana ia bertarung untuk memastikan pilihannya sendiri. Dalam peringkat ini ibu wajar memberikan penuh perhatian. Kegagalan kanak-kanak tersebut dalam merealisasikan kemandiriannya menyebabkannya ia akan ragu terhadap dirinya serta kurang yakin dengan kemampuannya sekaligus mengakibatkan berkurangnya keyakinan kepada orang lain. Anak-anak akan bersifat malu dan merasa serba kekurangan.

Keupayaan anak-anak untuk mandiri serta merasakan kewujudan dirinya yang tersendiri cukup penting dalam peringkat ini. Dalam tahap inilah berkembangnya sifat-sifat personal seperti sayang, benci, ego serta kebebasan untuk mengungkap perasaan. Dalam peringkat umur 3 hingga 6 tahun kanak-kanak tersebut terus mengembangkan kemandirian dengan kegiatan yang lebih meluas; di mana mereka lebih aktif bergerak, mempunyai tahap prihatin yang lebih tinggi, banyak bertanya dan bercakap. Ibu bapa dan pengasuh wajar mengarahkan kanak-kanak dengan bijak agar mereka memperoleh kemahiran-kemahiran mengatur dan menyusun sesuatu sehingga kanak-kanak berjaya melaksanakannya. Layanan yang kasar serta kekerasan yang berlebihan boleh menjejaskan jiwa, mental dan fizikal kanak-kanak.

Ibu bapa tidak wajar menganggap kanak-kanak pada peringkat ini seperti orang tua dalam erti kata meletakkan tanggungjawab moral dan akhlak terhadap perbuatan dan reaksinya kerana kanak-kanak masih belum mampu membezakan dengan tepat dan memahami sesuatu. Mereka hendaklah dikasihi, diperlakukan secara lemah lembut dan sikap toleransi. Rasulullah S.A.W. sendiri pernah menunjukkan sifat-sifat yang demikian. Abu Qatabah meriwayatkan pada suatu hari Nabi keluar menemui kami. Beliau mendokong Umamah Abu 'Asr. Beliau bersembahyang sambil mendokong Umamah, apabila Baginda ruku', beliau meletakkan dan apabila ia bangun ia dukung semula Umamah. Hadis ini membayangkan betapa kasihnya Rasulullah kepada cucunya.Beliau tidak memperlakukannya sebagai manusia yang mengerti segala-galanya.Beliau membenarkan anak tersebut bersamanya ketika sembahyang walhal sembahyang itu adalah ibadah yang suci dalam Islam.

Peringkat pertengahan dan akhir kanak-kanak

Dalam peringkat ini kanak-kanak mula memperluas arena hubungan sosial dan pergaulannya dengan orang lain yang sekampung atau sesekolah atau juga rakan sebaya dengannya. Kanak-kanak mula menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi baru dalam hidupnya. Ia mula membezakan perbuatan dan jenis-jenis tindak tanduk yang disukai oleh orang lain atau sebaliknya. Ia gembira jika orang lain puas dengan perbuatannya. Sebaliknya ia kecewa, menyesal jika orang lain marah kepadanya. Ini adalah permulaannya yang betul bagi proses pembentukan akhlak yang luhur.

Perkembangan akhlak yang positif ini menyebabkan kanak-kanak selalu berusaha untuk menyelaraskan antara kehendak dirinya dengan kehendak orang lain. Antara kecenderungan dan motivasi dengan nilai agama, akhlak, tradisi, guru, peraturan dan undang-undang. Dalam peringkat ini terteralah kesedaran tentang tanggungjawab akhlak dalam diri kanak-kanak sehingga ia mencapai tahap perkembangan akhlak yang ke-3. Dalam peringkat ini ibu bapa dan guru perlu perihatin kepada kecendurangan ini dan amat perlu diarahkan secara yang bijaksana sehingga kanak-kanak dapat memperolehi model yang utama (role model) di samping mengembangkan kearah nilai-nilai kebaikan.

Peringkat yang ketiga iaitu peringkat baligh dan remaja
Perkembangan akhlak pada masa ini mula berakar dan mantap. Fizikal kanak-kanak mula berkembang dan membesar. Perkembangan ini diikuti oleh perkembangan sosioemosinya di mana anak tersebut mula memperolehi keperibadiannya yang unik. Ia mula merasakan 'sense of belonging' kepada kelompok yang lebih besar. Peringkat ini adalah peringkat yang amat komplikated (rumit) dan ia disertai oleh pengalaman-pengelaman baru serta peranan dan peluang-peluang yang baru. Menyerlahnya dorongan kejantinaan semakin merumitkan hubungannya dengan orang lain. Keupayaan fizikalnya semakin kukuh dan mencapah. Tanggungjawab persekolahan ikut bertambah, disiplin hidupnya mula terbentuk.

Kanak-kanak mula berubah menjadi manusia yang berupaya mengawal kehendak nalurinya. Ia mula menundukkan diri kepada contoh utama yang telah terserap jauh dalam batinnya. Ia menjadikan contoh utama tersebut sebagai kriteria dalam tingkah laku dan situasi yang bersifat moral. Ia akan beriltizam dengan saranan-saranan dan contoh yang ditunjukkan sama ada wujud dalam bentuk undang-undang, sistem, adat dan budaya sosial atau ketiadaannya.

Kesempurnaan perkembangan akhlak berkaitan dengan kesempurnaan perkembangan akal, kejiwaan dan sosial. Huzaifah meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda : "Janganlah kalian menjadi pak turut. Kalian menyatakan kalau orang lain buat baik kalian buat baik. Kalau mereka jahat kalian buat jahat. Akan tetapi mantapkanlah pendirian kalian. Jika orang baik kalian wajar berbuat baik. Jika mereka melakukan kejahatan janganlah pula kalian melakukan."
Pembentukan Akhlak Remaja Islam
Pembentukan akhlak di dalam Islam dimulai dengan pengukuhan akidah melalui ikrar bahawa tidak ada Tuhan sebenarnya yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Bagi kanak-kanak yang baru lahir pendedahan ini dimula dengan azan dan iqamat. Dalam peringkat berikutnya kanak-kanak dilatih dengan budaya hidup beragama Islam oleh ibu bapanya . Apabila lidah anak-anak sudah boleh bertutur mereka dilatih menyebut nama Allah dan beberapa ayat ringkas seperti:

وَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنْ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا(111)
Dan katakanlah: "Segala puji tertentu bagi Allah yang tiada mempunyai anak, dan tiada bagiNya sekutu dalam urusan kerajaanNya, dan tiada bagiNya penolong disebabkan sesuatu kelemahanNya; dan hendaklah engkau membesarkan serta memuliakanNya dengan bersungguh-sungguh!"

atau doa kepada ibu bapa:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنْ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا(24)
dan lain-lain.

Pengungkapan syahadat sebagai suatu proses pembangunan akhlak bergandingan dengan tujuh syarat yang mustahak dipenuhi seperti mana yang disebutkan oleh Saikh Yusuf al-Badri:

a) Ilmu yang menafikan kejahilan
b) Kecintaan kepada Allah yang menafikan kecintaan kepada yang lainnya
c) Keyakinan yang menafikan keraguan
d) Penerimaan yang menafikan penolakan
e) Kepatuhan yang menidakkan keingkaran
f) Keikhlasan yang menafikan kesyirikan
g) Kejujuran yang menafikan sifat mendustakan 
atau sekadar berlakon.

Pemantapan kalimah tauhid ini bermakna pendidikan membentuk pemikiran, perasaan serta penanaman nilai-nilai keimanan yang dinyatakan oleh Rasulullah sebagai 60 atau 70 lebih cabang dalam diri umat Islam. Sesungguhnya kesedaran manusia tentang kewujudan, kebesaran, kekuasaan dan keesaan Allah s.w.t. tentunya akan menimbulkan keperihatinan yang tinggi terhadap arahan-arahanNya.

Dalam konteks yang sama, perkara utama yang perlu dilakukan oleh seorang muslim ialah memastikan dirinya bersih dari kekufuran atau tanda-tanda kekufuran kepada Allah dan Rasulnya; iaitu samada menafikan perkara-perkara asas agama, atau melakukan perkara-perkara yang membatalkan syahadat. Kemudian, ia harus memastikan dirinya terlepas dari sifat-sifat kemunafikan, samada yang bersifat tanggapan mahupun yang bersifat amalan. Kemunafikan dalam tanggapan umpamanya, meyakini sesuatu yang bercanggah dengan hakikat Islam yang sebenar walhal lidahnya mengatakan ia menurut Islam yang sebenar. Kemunafikan dalam amalan ialah melakukan akhlak-akhlak orang yang munafik seperti tidak mematuhi janji, membiasakan diri dengan berdusta dan bersifat khianat. Ia hendaklah memastikan dirinya bersih daripada kefasikan atau penderhakaan kepada Allah. Tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Tidak menyalahi perintah Allah. Manusia muslim mesti menghindarkan diri dari segala kejahatan ; lahir dan batin.

Pembangunan akhlak bermula dengan perlaksanaan :
1- solat.
2- zakat dan infak.
3- puasa.
4- haji.
5- membaca al qur'an.
6- zikir.
7- memikirkan penciptaan allah.
8- mengingati mati dan memendekkan angan-angan.
9- muraqabah, muhasabah, mujahadah dan mu'atabah.
10- jihad, amal makruf dan nahi mungkar.
11- dedikasi dan bersifat tawadduk.
12- mengenali tipu daya syaitan terhadap manusia serta menangkis dan menutup laluannya.
13- mengenal jenis-jenis penyakit hati serta mengetahui cara-cara merawatnya.

Bagaimana Membangunkan Akhlak Umat Islam

Menurut Syaikh Abdul Rahman al Midani; akhlak manusia memang boleh berkembang dan boleh dibentuk dengan berbagai cara. Antara cara-cara tersebut ialah melalui:

a- Latihan Amali Dan Amalan-Amalan Menjernihkan Batin
Pendidikan akhlak tidak hanya melalui penjelasan mengenai nilai-nilai akhlak kepada masyarakat di mana mereka boleh memilih dan menghargai nilai-nilai tersebut tetapi juga pendidikan akhlak boleh dibuat berdasarkan latih tubi, perlaksanaan atau penghayatan yang berterusan umpamanya. Walaupun di peringkat awal ia dilaksanakan kerana arahan atau tekanan dari luar, namun lama kelamaan ia akan menjadi kebiasaan dan tabiat. Manusia sememangnya berupaya memperolehi akhlak atau sifat yang mulia melalui pendekatan ini. Rasulullah s.a.w. bersabda ( maksudnya ) :

"Suruhlah anak kalian bersembahyang ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kerana meninggalkannya ketika umur mereka ( menjangkau ) sepuluh tahun.

Seandainya sembahyang boleh dibiasakan sejak dari kecil , maka puasa, zikir dan tilawatul Qur'an pun boleh diamalkan sejak dari kecil dan secara berterusan; sehingga menjadi amalan yang lazim dan budaya hidup. Amalan amalan ini pastinya lambat-laun akan menjadi adat atau kebiasaan seseorang.

b- Meletakkan Diri Dalam Lingkungan Persekitaran Yang Soleh

Persekitaran sosial dan budaya kerap mempengaruhi manusia. Persekitaran tersebut merangkum tradisi, model tingkah-laku dan saranan serta rangsangan yang bersifat akhlak. Manusia memang sering terpengaruh kepada persekitarannya; dengan cara meniru serta mencontohifigure yang disanjungi oleh mereka. Kewujudan seseorang dalam lingkungan masyarakat yang baik serta soleh sudah tentu akan menyebabkan ia beriltizam dengan amalan dan etika yang dihayati oleh kumpulan tersebut. Ia akan berusaha melaksanakan sesuatu yang disanjungi oleh masyarakatnya. Sebaliknya, perbuatan yang dianggap keji oleh lingkungannya, ia akan berusaha sedaya upaya untuk menghindarinya.
Dalam kontek menegaskan kesan lingkungan ini Allah SWT berfirman:
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
Maksudnya :
"Negara yang baik (makmur) akan menampilkan hasil mahsulnya ( yang baik dan sihat) dengan izin tuhannya, manakala negara yang buruk, tidak akan dapat menghasilkan kecuali pengeluaran yang buruk. Demikianlah Kami ajukan tanda-tanda kebesaran Kami kepada kaum yang bersyukur."
Surah al 'Araf, ayat 58 :

Masyarakat yang buruk ialah masyarakat yang tidak melaksanakan syariat Allah. Mereka menguatkuasakan peraturan dan undang-undang ciptaan manusia yang menyimpang dari jalan Allah yang lurus. Dengan demikian, warganya sudah pasti akan berkembang di dalam masalah sosial yang tidak sihat. Mereka akan terpengaruh dengan gejala-gejala kejahatan yang berkembang pesat dalam masyarakat yang dilanda oleh fenomena moral berkenaan.


c-Qudwah Hasanah

Manusia juga dipengaruhi oleh idolanya. Idola tersebut kerap menjadi rol model dalam kehidupan mereka. Manusia yang berperanan menjadi rol model tersebut antara lain ialah tokoh politik, artis, seniman, atlit sukan, ibu bapa, guru dan sebagainya. Meskipun Rasulullah adalah qudwah yang paling ideal bagi umat Islam, namun penghayatan nilai-nilai yang dibawa oleh Rasulullah hendaklah dipaparkan oleh golongan idola berkenaan. Mereka sewajarnya sentiasa berusaha menunjukkan contoh dan teladan yang terpuji agar dapat ditiru oleh generasi muda. Penghayatan golongan idola tersebut terhadap nilai-nilai yang luhur dan utama pasti akan mengukuhkan keyakinan generasi baru bahawa keutamaan dan keluhuran memang sebenarnya boleh dilaksanakan. Ia bukan zaman dahulu kala atau idealisme khayalan belaka; tetapi malah ianya suatu realiti yang tentunya boleh dicontohi dan direalisasi oleh generasi masa kini.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Bermaksud;
"sesungguhnya Rasulullah itu bagi kamu adalah contoh ikutan yang baik untuk mereka yang mengharapkan Allah, mengharapkan ( ganjaran ) hari akhirat dan mereka yang kerap mengingati Allah." Surah al Ahzab, ayat 21.


d- Tekanan Sosial Dari Masyarakat Islam

Antara mekanisme yang digunakan oleh Islam dalam membentuk penganutnya serta memastikan mereka melaksanakan tata kelakuan berakhlak ialah wujudnya komuniti sosial yang komited dengan dasar dan prinsip-prinsip Islam. Masyarakat Islam yang mempunyai impak yang besar dan pengaruh yang kuat dalam memaksa individu mengamalkan atau menurut nilai dan norma-norma akhlak. Mereka boleh melaksanakan tekanan moral yang berkesan untuk mendisplinkan golongan yang berkecenderungan untuk melakukan kejahatan. Manusia memang suka dipuji, dihormati dan disanjung. Manusia juga takut dikeji dan dicemuh oleh kumpulan di mana ia mempunyai sense of belonging kepada mereka. Faktor-faktor tersebut adalah anak kunci yang sedikit sebanyak menentukan tindak-tanduk seseorang. Masyarakat Islam yang aktif boleh berperanan menyuburkan semangat dan amalan hidup berakhlak. Ia juga boleh membendung trend-trend kufur dan maksiat dalam masyarakat melalui perlaksanaan amal mak'ruf dan nahi mungkar. Apabila masyarakat kehilangan keprihatinannya terhadap kewajipan menegakkan makruf dan mencegah yang mungkar, maka bermulalah proses penghakisan moral, akhlak dan martabat umat berkenaan.

e- Kuasa Negara Islam melalui sistem keadilan dan galakannya

Tuntutan akhlak dan nilai-nilainya tidak akan bermaya tanpa digandingi oleh kuasa atau autoriti yang menguatkuasakan nilai-nilai tersebut. Oleh kerana itu, antara tanggungjawab negara Islam ialah mewujudkan mekanisme dan jentera-jentera pentadbiran yang dapat beroperasi untuk memastikan ketertiban serta penghayatan kaedah-kaedah akhlak dalam masyarakat. Jika negara tidak melaksanakan amanah ini kerana ia tidak berlandaskan sistem perlembagaan dan undang-undang Islam sudah pasti keadaan akhlak umat akan lebih parah dan malang.Melalui puluhan kementerian, badan-badan berkanun, agensi-agensi kerajaan akhlak akan digugat dan dihakis. Amalan pemerintahan yang tidak adil menjanjikan kemusnahan bukan hanya dalam bidang akhlak tetapi juga dalam semua hal.
Selain dari apa yang telah dinyatakan di atas maka akhlak juga boleh dibentuk oleh media massa, sekolah, rakan sebaya, masjid atau surau dan sebagainya. Untuk lebih jelas ada baiknya kita terangkan satu persatu peranan tersebut :

f - Peranan Media Massa

Media massa merupakan satu mekanisme yang mempunyai pengaruh yang amat besar dan berkesan di dalam pembentukan keperibadian manusia. Ia merupakan agen sosialisasi dan memainkan peranan penting di dalam menanam dan menggalakkan amalan-amalan berakhlak di dalam masyarakat. Media massa mampu mencorakkan hati budi, mentaliti dan sahsiah umat khasnya yang beroperasi 24 jam. Media massa tersebut perlu bebas dari cengkaman faham sekularisme, budaya komersial yang melampau, faham kebendaan dan dorongan untuk hidup secara mewah dan berpoya-poya. Media massa hendaklah mempunyai asas falsafah dan dasar-dasar komunikasi yang selaras dengan nilai-nilai akhlak Islam. Para petugas media massa hendaklah meningkatkan rasa akauntabiliti, tanggungjawab dan kewajipan mereka untuk memihak dan menegakkan nilai-nilai luhur seperti kebenaran, kejujuran dan sebagainya.

Para pengguna media massa terutama golongan yang bertanggungjawab seperti ibubapa, guru, pemimpin politik dan pentadbir hendaklah lebih bijaksana dalam mengarah, membimbing, meningkatkan rasionaliti, kematangan dan kewaspadaan serta keupayaan memilih siaran yang lebih bermanfaat untuk ditontoni oleh anak-anak atau orang-orang yang di bawah jagaan mereka. Media massa juga sebenarnya boleh menjadi wahana "cultural domination dan imperialisme" melalui berbagai saluran teknologi maklumat yang canggih seperti internet, multimedia dan sebagainya.


g - Peranan Sekolah

Sekolah mempunyai fungsi yang tersendiri dalam mendidik generasi baru dengan akhlak Islam. Antara lain sekolah boleh :
1. Menggandakan keberkesanan institusi pendidikan, menambahkan produktivitinya, meningkatkan kewibawaannya di kalangan setiap anggotanya baik mereka itu pelajar atau petugas.
2. Memperbaiki suasana persekolahan, mendaulatkan undang-undang atau peraturan Islam khasnya yang berkaitan dengan persekolahan, memperbaiki hubungan antara sesama anggota sekolah atau institusi.
3. Memancangkan dengan teguh akan nilai-nilai murni dan akhlak yang baik seperti ketaatan atas dasar kesedaran menghormati peraturan dan pihak yang berwewenang, menjaga perasaan orang lain, menjaga standard layanan dalam berinteraksi, berkorban untuk kepentingan ramai, bekerjasama, melakukan self criticism, mengawal diri, menghargai ilmu, menghormati ulama' dan sebagainya.
4. Membaiki prestasi persekolahan murid-murid dari segi kualiti dan kuantiti, mendidik mereka dari segi agama, akhlak dan sosial secara wajar dan sihat, mempersiapkan mereka agar dapat memikul tugas dan tanggungjawab yang bakal mereka hadapi; di samping melatih mereka menghukum atau menilai diri sendiri sebagai seorang yang berfikiran matang dan bebas.

Para pelajar di sekolah hendaklah dilatih supaya merendah diri dan memuliakan orang yang mereka bergaul dengan mereka. Mereka hendaklah digalakkan lebih suka memberi dari menerima. Dalam sanubari mereka patut dicambahkan keinsafan bahawa tangan yang memberi lebih utama dari tangan yang menerima. Disuburkan pula perasaan zuhud dalam hatinya dan di asuh agar tidak menjadi mata duitan.

Mereka harus juga diasuh supaya tidak meludah dalam majlis atau berkahak, tidak menguap besar di hadapan orang, tidak meletakkan kaki di atas sebelah kaki yang lain serta tidak membanyakkan cakap. Anak-anak harus digalakkan tidak banyak bercakap kecuali sekadar menjawab. Mereka harus dilatih pandai mendengar tuturan orang, lebih-lebih lagi jika orang yang bercakap itu lebih tua daripadanya.

Mereka mesti ditegah mengucapkan kata-kata kesat, atau bergaul dengan orang-orang yang celupar. Justeru antara kaedah mendidik anak-anak ialah melindungi mereka dari rakan-rakan yang jahat. Selain dari itu elok juga selepas belajar mereka dibenarkan bermain-main untuk menyegarkan tubuh mereka setelah penat belajar. Mereka hendaklah diasuh supaya patuh kepada ibu bapa, guru dan menghurmati mereka.

Selain dari latihan serta disiplin seperti di atas, pelajar harus juga dilatih menghargai tugas dan tanggung jawab dengan cara yang bijak, lemah-lembut tanpa terburu-buru melaksanakan kekerasan atau pemaksaan melalui penderaan. Kepatuhan yang lahir dari keinsafan dan kesedaran batin biasanya lebih berkesan dan mantap. Bagi seorang pendidik menggunakan tindakan menghukum biarlah terhadap perkara yang paling akhir dalam fikirannya; samada mereka golongan guru atau bapa. Bahkan apabila hukum hendak dikenakan kepada murid biarlah sekadar yang perlu sahaja.

Bimbingan dan nasihat yang lemah lembut tetapi tegas kadang-kadang lebih meninggalkan kesan di dalam hati serta dipatuhi. Hukuman atau penderaan bukanlah langkah utama yang merupakan satu-satunya penyelesaian. Penderaan adalah langkah terakhir apabila contoh yang baik, nasihat dan hubungan kasih sayang antara anak dan bapa atau guru tidak mampu lagi untuk digunakan.

Rasulullah bersabda yang bermaksud :
"Suruhlah anak-anak kamu menunaikan solat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ( kerana enggan sembahyang ) apabila umur mereka sepuluh tahun". (Hadith diriwayatkan oleh Abu Daud).

Demikianlah dalam Islam pembelajaran tidak dimulai dengan rotan atau hukuman. Malah di dahului oleh berbagai cara dan pendekatan untuk memupuk kebiasaan dan akhlak yang terpuji seperti melatih bersembahyang dengan menggunakan kecenderungan meniru yang menjadi pembawaan kanak-kanak dan dengan rasa yang penuh kasih sayang dari orang dewasa. Misalnya dengan memaparkan contoh, nasihat, perkataan yang baik, teguran yang lemah lembut tetapi tegas dan sebagainya. Sekiranya cara-cara tersebut gagal barulah dikenakan sedikit kekerasan yang bertujuan mendidik bukan yang menimbulkan kecacatan fizikal dan sebagainya.

Firman Allah :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
"Dengan rahmat ALlah kepadamu itu maka engkau berlemah lembut menghadapi mereka. Seandainya hatimu keras dan (sikapmu) kasar nescaya mereka bubar dari sekelilingmu.
(Surah Ali Imran : ayat 159)

Satu hakikat pembelajaran yang lumrah di sekolah ialah murid kerap dipengaruhi oleh sifat, kebiasaan dan akhlak guru. Sekiranya guru mempunyai akhlak yang baik murid ikut terpengaruh dengan akhlak ini. Demikianlah sebaliknya. Pandangan negatif murid bukan setakat terhad kepada guru tetapi juga mungkin menjangkau kepada pelajaran, kepada sekolah dan seterusnya kepada sistem persekolahan keseluruhannya.

Displin sekolah hendaklah dilaksanakan dengan semangat kerjasama. Guru besar, nazir, guru, murid malah ibubapa hendaklah sama-sama berperanan. Ini bermakna harus ada penerimaan dan permuafakatan tentang polisi dan cara-cara merealisasikannya seboleh-bolehnya dari semua pihak agar masing-masing melindungi dan mempertahankannya.

Usaha mengatasi masalah di sekolah hendaklah dengan menghapuskan sebab-sebab pokok atau punca dari mana datangnya permasalahan itu. Ini termasuk menghapuskan suasana yang membantu atau menyokong salah laku dari murid . Di samping itu juga penyelesaian boleh di usahakan dengan mengambil langkah pencegahan dan mengujudkan suasana yang lebih positif. Ini di dasarkan kepada prinsip "mencegah lebih baik dari merawat".

Antara langkah-langkah yang boleh dilakukan oleh sekolah dalam membangun akhlak ialah dengan mengadakan kempen menyedarkan murid tentang keperluan menghormati disiplin sekolah, menerangkan tentang mengapa suatu disiplin itu dibuat dan memperbanyakkan aktiviti sekolah dengan mempelbagaikannya, menggunakan atau memenuhi masa lapang murid, menghubung-kaitkan sukatan pelajaran dengan keperluan diri dan masyarakat mereka dan langkah-langkah yang lain.


h - Peranan rakan sebaya

Antara agen sosial yang berpengaruh di dalam membentuk sikap dan akhlak individu ialah rakan sebaya. Rakan sebaya merupakan kelompok rujukan bagi remaja di dalam tingkah laku mereka. Perasaan "sense of belonging" kepada kumpulan adalah suatu yang lumrah. Remaja akan mengubahsuai dan mengadaptasikan nilai-nilai rakan sebayanya untuk mendapat penerimaan dan pengakuran mereka. Remaja memang menyedari adanya jurang generasi antara mereka dengan kumpulan dewasa dan mereka sering berhadapan masalah dalam mewujudkan hubungan dengan generasi yang lebih tua. Kajian yang dilakukan oleh Lambert dan rakan-rakannya ( 1972 ) menunjukkan remaja menghadapi berbagai konflik apabila mereka berusaha merentasi jurang generasi( generation gap ) tersebut antara pemikiran mereka dan pemikiran ibubapa mereka.

Kajian menunjukkan bahawa masalah remaja lelaki dan perempuan adalah :
1. kesukaran untuk membincangkan permasalahan mereka dengan para ibubapa mereka dan para penjaga mereka
2. kesukaran untuk memberitahu ibubapa dan penjaga mereka mengenai apa yang mereka lakukan
3. wujudnya jarak yang agak lebar antara jalan fikiran mereka dengan jalan pemikiran ibubapa dan penjaga mereka. 

Oleh kerana itu golongan remaja umpamanya sering merujuk rakan sebaya dan kelompok sosial tertentu untuk mendapat bimbingan ke arah menyelesaikan masalah mereka. Kesilapan di dalam memilih kelompok rakan setara samada bersahabat dengan penagih dadah, kutu lepak, gangster atau kumpulan samseng, bohsia dan sebagainya pasti akan mengakibatkan kemusnahan akhlak golongan remaja dan dewasa .
i - Peranan rumah ibadah
Bagi umat Islam, rumah ibadat yang paling penting ialah masjid. Di sinilah umat Islam sering berkumpul untuk menyembah Allah secara berjamaah. Sebab itulah di mana sahaja dalam negara umat Islam; bahkan di kota-kota besar dunia kedapatan bangunan masjid yang berbagai bentuk dan rupa. Ada yang kecil dan ada pula yang besar. Masjid sentiasa menjadi lambang kemegahan umat dan pemerintah Islam. Sebagai tempat ibadah masjid mempunyai peranan dan pengaruh yang besar dalam meneruskan penghayatan nilai-nilai akhlak dalam masyarakat Islam. Kelangsungan budaya, cara hidup dan syiar Islam lumrahnya diperkukuhkan oleh institusi ini. Sebab itu perkara pertama yang dilakukan oleh Rasulullah S.A.W ketika baginda berhijrah ke Madinah al Munauwarah ialah membina Masjid Quba' dan Masjid Nabawi.

Ilmu yang dipelajari di masjid pada masa dahulu bersepadu dengan nilai tauhid, ruh Islam dan akhlak . Ia mengimbaukan ketakwaan dan mengukuhkan ubudiah manusia kepada Allah . Ilmu yang dipelajar membawa berkat dan meningkatkan ciri khasyatullah atau takut kepada Allah. Sebab itu lahir para ulama dan ilmuan yang jujur, soleh dan dedikasi. Apabila semangat dan imbauan seperti ini sudah tiada lagi ilmu disalut dengan semangat kebendaan dan keserakahan manusia. Sebab itu muncullah ilmuan-ilmuan sekular yang amat benci kepada Islam dan ajaran Allah itu sendiri .

Ada berbagai bentuk kegiatan keilmuan, kebudayaan dan kemasyarakatan yang boleh dijalankan di dalam atau di pekarangan masjid untuk tujuan mengukuhkan akhlak dan sahsiah umat . Antaranya ialah:
1. Kelas Fardu Ain
2. Kelas Tajuid & Qiraat.
3. Kelas Bimbingan Remaja.
4. Kelas Bahasa Arab.
5. Ceramah Berkala.
6. Seminar Motivasi dan Pembentukan Syakhsiah.
7. Kursus Rumahtangga Bahagia.
8. Kursus Pengurusan Jenazah.
9. Madrasah atau Sistem Pengajian Formal.
10. Kursus Dakwah dan Imamah.
11. Acara Tadarus al-Quran.
12. Khemah Ibadan & Qiamullail.
13. Kursus Pengurusan Masjid.
14. Kegiatan Amar Ma'ruf & Nahi Munkar.
15. Seminar Pengurusan Sumber Masjid.
16. Kempin Memakmurkan Masjid.
17. Membentuk organisasi Belia Masjid ( Rakan Masjid )

Seluruh agensi sosial, Jentera Kerajaan, Kementerian dan Badan-badan Berkanun, NGO dan Badan-badan Korporat, swasta dan awam hendaklah digembling untuk bersama-sama berperanan meningkatkan kualiti akhlak umat samada dengan mengadakan kempen hidup beretika dan berakhlak atau melancarkan buku-buku rujukan yang menjelaskan nilai-nilai akhlak tersebut dan sebagainya.

Rumusan

Gagasan dan tugas untuk membangun, memupuk dan meningkatkan mutu akhlak umat khasnya di kalangan remaja adalah suatu tanggungjawab besar. Ia tidak dapat dilakukan dengan jayanya kecuali oleh manusia yang berjiwa besar dan mempunyai kualiti kemanusian yang tinggi. Ia harus bermula dengan melahirkan para pemimpin umat yang berakhlak, beriman dan bertakwa. Pemimpin yang mempunyai iltizam yang tidak berbelah bagi kepada set-set nilai akhlak Islam, mempunyai kerohanian yang amat tinggi, mewarisi ciri perjuangan Rasulullah yang diutus untuk membangun akhlak dan keluhuran akan beroleh kedudukan dalam pemerintahan lantas memastikan semua umat menunaikan solat, mengeluarkan zakat, menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar, menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah, mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah. Mereka menguatkuasakan sistem hidup Islam yang memang membela akhlak. Mereka melaksanakan undang-undang Allah yang sebenarnya memang melindungi nilai dan norma akhlak dalam masyarakat.

Dengan adanya pemimpin yang soleh dan bertakwa seluruh agen sosialisasi dan jentera kerajaan akan menghala ke arah yang sama. Rakyat akan terbentuk oleh media yang beretika dan berakhlak. Pengaruh luar yang buruk akan disekat samada dalam rancangan tv, filem, internet maupun apa jua pengaruh lain yang mengancam jatidiri dan maruah umat. Dasar-dasar kementerian dan agensi pembangunan masyarakat akan selaras dengan tuntutan nilai dan tatanan akhlak. Tidak berlaku proses pertentangan antara kerja membangun dan merosak akhlak serentak dalam jentera-jentera berkenaan.

Agenda-agenda khusus menangani gejala keruntuhan dan kemorosatan akhlak akan disusun dengan lebih berkesan dan menyeluruh. Segala-galanya akan dimanfaatkan dalam menjana kekuatan untuk meningkatkan mertabat umat dalam segala bidang.Kebenaran keadilan dan ihsan akan didaulatkan . Manusia diasuh kembali menjadi hamba Allah yang ta'at dan bukan hamba benda, wang, pembangunan, bangsa atau negara. 
Semoga semua langkah-langkah yang dicadangkan di atas dapat membantu mengatasi masalah keruntuhan akhlak yang semakin berleluasa, khasnya di kalangan remaja kita dewasa ini..
 

just a blog. not real. Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review